Swearing

Jurnal Api: Climate Change and Pandemic

Banyak yang percaya bahwa munculnya COVID-19 ini adalah sebagai bentuk antibodi bagi keberadaan dan aktivitas manusia di muka bumi. Dengan kata lain, manusia adalah sebuah “virus” dan covid-19 ini adalah antivirus untuk menanggulangi persoalan tersebut.

Banyak sekali pendapat bertebaran terkait meningkatnya kualitas udara di kota-kota metropolitan dan bagaimana jernihnya kualitas air di Kota Venesia Italia ketika berhentinya aktivitas pariwisata di sana hingga banyak sekali kabar-kabar “baik” muncul di tengah pandemi ini.

Tapi apakah memang benar COVID-19 ini merupakan antibodi bumi terhadap keberadaan dan aktivitas manusia di bumi? atau memang karena sebab yang lebih panjang dari akumulasi karbon dioksida yang berasal dari aktivitas kita sehari-hari?

Kita harus berhati-hati dalam mengambil kesimpulan dari peristiwa ini, boleh jadi kesimpulan kita di awal soal COVID-19 ini adalah antibodi dan manusia adalah virusnya merupakan kesimpulan yang tergesa-gesa dan cenderung ahistoris—berlawan dengan sejarah.

Dalam tulisan ini, saya akan berusaha memeriksa keterkaitan perubahan iklim dengan munculnya virus baru melalui kacamata ekologi.

Perubahan Iklim (Efek Rumah Kaca)

Efek rumah kaca kali ini bukan nama sebuah band dari Jakarta, tapi sebuah proses alamiah di mana bumi menerima energi dari matahari dalam bentuk sinar ultraviolet—cahaya—dan melepaskan sebagian energi ini kembali ke luar angkasa sebagai sinar inframerah—panas.

BACA JUGA: Dominasi dan Kekerasan Simbolik

Gas dapat menyerap sebagian energi yang keluar ini dan memancarkan energi ini kembali sebagai panas. Gas-gas ini (yang meliputi, karbon dioksida, metana, nitrogen oksida dan lain-lain) disebut gas “rumah kaca”. Namun bila kandungan gas yang ada dalam atmosfer terlalu banyak, maka suhu bumi akan naik dan menyebabkan perubahan iklim.

Sumber utama emisi gas rumah kaca berasal dari kegiatan manusia termasuk pembangkit listrik—sekitar 25 persen dari semua emisi gas, transportasi, aktivitas industri, deforestasi dan pertanian.

Jenis, sumber, dan jumlah gas rumah kaca yang dipancarkan oleh berbagai negara secara historis sangat bervariasi—dan berlangsung hingga sekarang. Dalam data yang berhasil saya himpun, Tiongkok menempati urutan pertama dalam perlombaan memproduksi emisi gas rumah kaca, disusul Amerika Serikat dan diikuti oleh India dalam tiga besar penyumbang CO2 terbesar di dunia tahun 2016.

Lalu bagaimanakah dampaknya terhadap suhu dunia? Badan Meteorologi Inggris mencatat bahwa pada tahun 2019 suhu dunia lebih tinggi 1,05 derajat celsius dari era pra-industri dalam 10 tahun terakhir sejak 2009.

Naiknya temperatur suhu ini tidak akan berakhir dalam 1 atau 2 tahun mendatang, melainkan akan cenderung naik hingga tahun 2025 menurut proyeksi yang dibuat Badan Meteorologi Inggris, Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional AS (NOAA) dan Badan Penerbangan dan Antariksa AS (NASA).

Meningkatnya Potensi Virus Baru

Dengan semakin hangatnya temperatur suhu ini, dengan otomatis akan memperpendek musim dingin dan memperpanjang musim panas. Celakanya dengan semakin panjangnya musim panas ini, kehidupan hewan yang berpotensi sebagai perantara virus meningkat.

Seperti nyamuk dan tikus, karena mereka mempunyai waktu yang lebih lama dan lebih awal untuk berkembang biak dan migrasi ke tempat-tempat yang lebih tinggi dan dingin sebelumnya. Mereka sanggup melewati perbatasan dan membawa penyakit ke wilayah-wilayah baru.

BACA JUGA: Menelusuri Sifat Korup Dalam Diri

Dalam jurnal European Society of Clinical Microbiology and Infectious Diseases yang diterbitkan oleh Universitas Marseille dan ditulis oleh E. Gould menjelaskan bahwa kepadatan populasi hewan pengerat dan ekspansinya yang sangat sensitif terhadap perubahan pola iklim berbarengan dengan ekspansi manusia; tikus juga pelancong yang sangat sukses di lautan.

Beberapa flavivirus (penyebab pernyakit demam kuning) terkait tikus yang endemik di Amerika Utara mempunyai kekerabatan yang sangat dekat dengan flavivirus Afrika. Mereka hampir pasti tiba di Amerika dengan kargo atau budak (imigran) dikirimkan melalui tikus yang sudah terinfeksi.

Di sisi lain, perubahan siklus air adalah keniscayaan dari pemanasan global. Dengan kata lain hujan deras dan banjir akan menjadi lebih sering hadir dan menyebabkan genangan sehingga membuat semakin suburnya habitat utama nyamuk.

Ditambah rusaknya habitat yang disebabkan oleh pemanasan global seperti kebakaran hutan dan naiknya permukaan air laut akan menggusur hewan liar secara perlahan keluar dari habitat asli mereka. Belum lagi deforestasi dan konversi hutan lindung menjadi hutan produksi untuk mendukung investasi, akan sangat berbahaya.

Mereka akan mencari ruang-ruang baru dan akan semakin dekat dengan permukiman manusia (atau kita yang menginvasi habitat mereka?). Tentu saja ini bukan kabar baik bagi keberlanjutan ekosistem di planet ini.

60 persen dari semua penyakit manusia yang diketahui dan 75 persen dari penyakit menular yang muncul dalam beberapa dekade terakhir adalah zoonosis atau ditularkan dari hewan ke manusia.

Dalam pernyataan World Health Organization (WHO) yang dirilis di situs resmi mereka menyebutkan bahwa dengan mempertimbangkan hanya sebagian dari dampak kesehatan yang mungkin terjadi, dan dengan asumsi pertumbuhan ekonomi dan kemajuan kesehatan yang berkesinambungan.

Menyimpulkan bahwa perubahan iklim diperkirakan akan menyebabkan sekitar 250.000 kematian tambahan per tahun antara tahun 2030 dan 2050; 38.000 karena pajanan (peristiwa yang menimbulkan risiko penularan) panas pada orang lanjut usia, 48.000 karena diare, 60.000 karena malaria, dan 95.000 karena kurang gizi pada masa kanak-kanak.

Perubahan iklim dan dampaknya terhadap kemunculan virus baru adalah sebuah fenomena gunung es yang sedang kita lihat. Banyak dari kita secara serampangan melontarkan ujaran rasis kepada orang Cina karena virus ini pertama kali muncul dari sana.

Namun, kita tidak pernah benar-benar ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi di balik fenomena ini, COVID-19 tidak muncul begitu saja dalam catatan sejarah tanpa ada faktor yang menyebabkannya muncul seperti perubahan iklim.

Perubahan iklim memegang peranan penting dalam keberlanjutan kehidupan kita di bumi. Faktor yang menyebabkan perubahan iklim inilah yang kemudian perlu diperiksa kembali agar kita tidak menjadi orang yang mudah memberikan penyataan tanpa ada dasar yang bisa dipertanggungjawabkan dan sebagai dasar keilmuan agar kita bisa lebih bersiap di masa mendatang.

Corona is the virus, capitalism is the pandemic!

Anonymous

Standard

27 thoughts on “Jurnal Api: Climate Change and Pandemic

  1. aku sempat baca artikel soal perubahan iklim dan pandemi ini. banyak aktifitas kita yang jadinya berubah dan beralih fungsi. apalagi dirasa orang mulai lengah merasa sudah vaksin tapi tidak jaga prokes ya.

    Like

  2. Artikel yg mencerahkan ijin share y mba. Kita harus mulai memwpehatikan (seharusnya sih dr dulu) hal-hal yg berkaitan dg kesehatan bumi. Tp gimana ya kan gabisa sendirian sementara banyak yg blm mengerti bahwa kerusakan bumi yg kita akibatkan bs menyebabkan perubahan iklim

    Like

  3. Wah menarik banget kak. climate ini rasanya dah krisis banget ya. Akupun tinggal di jabodetabek merasa bgt lebih panas dan makin panas setiap harinya. Secara ga langsung berdampak sama ekosistem termasuk para hewan ya. Nggak heran banyak penyakit aneh yg muncul penularan dari hewan ke manusia. Jadi harus bgt mulai aware lagi dan dibahas lebih serius nih buat mengurangi krisis iklim bumi.

    Like

  4. Sisi lain dari adanya Covid-19 memang memiliki hal positif misal dengan kualitas udara yang membaik di kota metropolitan. Tapi bukan virusnya, melainkan manusia. Manusia perlu menyadari jika semua yang terjadi saat ini sudah menjadi masalah besar dan perlu solusi bersama.

    Like

  5. Makinn ngeri ya kalau perubahan iklim dan virus nanti yang merajai dunia ini sehingga menjadi salah satu faktor kematian nantinya… Ya, selama ini kita menduga dan itu belum tentu benar walaupun kenyataan virus ini berawal dari China ya mas. Oiya, aku pernah liat yt seorang ilmuwan gitu ttg virus ini dan dinyatakan kita tidak tau apa fenomena2 di balik itu….

    Like

    • Banyak banget pandangan terkait virus ini datang dan bagaimana cara munculnya. Nah esai ini berusaha menceritakan dari salah satu sudut pandang.

      Lalu, mana hang benar? Ya itu tergantung sudut pandang kita dari sumber mana yang bisa dipercaya.

      Like

  6. Covid 19 mungkin juga teguran buat manusia yang sudah terlalu serakah mengeksploitasi bumi. Banyak hewan yang kehilangan habitatnya. Otomatis ada mata rantai yang hilang. Dari hilangnya mata rantai itu, bisa jadi, muncullah virus ini, yang seharusnya dimangsa sebuah hewan yang punah.

    Like

  7. Antin Aprianti says:

    Kalau ngomongin bumi yang semakin lama semakin tua dan renta suka pusing ya kak. Polusi udara dll yang terjadi karena ulah manusia juga, yang bisa dilakuin cuma membantu mengurangi beban bumi dimulai dari hal kecil yang bisa dilakuin diri sendiri seperti mengurangi penggunaan plastik dll

    Like

    • Yap! Bisa dimulai dari diri sendiri dengan membaikan esai ini misalnya. Kemudian membentuk komunitas yang mempunyai ide bersama terkait climate change, kemudian mendorong pemerintah untuk membuat peraturan yang bisa mengurangi climate change.

      Karena jika hanya individu saja tentu tidak akan kuat dan tidak akan menghasilkan perubahan besar. Kita perlu bersatu.

      Like

  8. hallowulandari says:

    ya lord, ngeri juga ya dampak perubahan iklim ini, bisa menyebabkan pertambahan kematian 250,000 per tahun, serem bangetttt! wah ga nyangka yah tahun 2019 jadi masa terpanas bumi dan bisa menurun di masa pandemi ini

    Like

  9. eka fitriani larasati says:

    saya baru benar-benar memahami covid 19 ini dari sudut pandang yang jauh berbeda dari apa yang saya pahami selama ini loh. thanks for the article dan riset yang udah kakak lakukan. saya gak pernah berfikir this global warming bisa mengakibatkan munculnya virus baru karena pergeseran lamanya musim panas dibanding musim dingin terhadap keberadaan hewan-hewan dan virus. apakah ini penemuan baru atau opini kakak? saya rasa perlu diteliti lebih lanjut nih.

    and yess, i agree… Corona is the virus, capitalism is the pandemic!

    Liked by 1 person

    • Terkait apakah climate change itu bisa menimbulkan virus dari pergeseran suhu bumi menjadi lebih hangat tentu banyak penelitian yang sudah dilakukan seperti beberapa sumber yang saya kutip dalam esai. Kemudian untuk riset-riset baru akan masih terus berlangsung dan memperbaharui data yang ada.

      Saya menulis esai ini karena asumsi dasar saya bahwa climate change ini nyata dan berbahaya, ternyata ada riset yang membahas kontribusi climate change terhadap munculnya virus baru. Jadi opini yang muncul dalam esai saya adalah kita harus cermat dan berhati-hati dalam memeriksa data dan wajib waspada terhadap climate change.

      Like

  10. adminnatih says:

    perubahan iklim ini bener-bener sudah jadi isu dunia yang hrus segera ditangani bersama yaa..
    Saya baru saja belajar tentang prinsip ekonomi linear dan ekonomi sirkular serta hbungannya dengan perubahan iklim. Ternyata prinsip ekonomi linear yg sedari dulu di lakukan benar-benar merusak bumi, sehingga sistem ekonomi sirkular menjadi salah satu cara untuk menyembuhkan bumi yg memang sudah kritis..

    Like

    • Yap! Industrialisasi memang menjadi aktor utama sejak revolusi industri abad 18 ketika mesin uap pertama kali ditemukan.

      Selalu ada cara dan selalu ada opsi untuk perbaikan. Tinggal kemauan kita sebagai manusia (individu) atau sebagai bangsa (kelompok) untuk serius menangani isu climate change ini.

      Like

  11. Awal tahun 2020, saya juga berpikir kalau virus covid19 ini “gara-gara” Cina. Namun setelah berjalannya waktu, saya yakin ada campur tangan sebuah (atau beberapa) negara atau pelaku bisnis pada pandamic ini. Terlepas dari itu, tulisan di artikel ini mengingatkan kita tuk lebih peduli lagi dengan lingkungan.

    Like

  12. keren artikelnya , jadi terbuka wawasanku dan itu jurnal ilmiah kok dapat aja sih bang kece selalu kalo mampir ke jurnal api ini bahasanya beda .

    duh iya ya kapitalisme itulah pandemiknya 😦

    jadi inget hati2 dg buah yang habis di makan oleh kelelawar karen akhwatir nya masih ada ludah yang menempl dibuah itu dan lagui2 waspada hewan yangbisa menularkan virus itu ya

    Like

  13. Hah? Ada yang menganggap bahwa virus Covid-19 ini antibodi bumi? Hiks hiks…
    Kerusakan bumi dan meningkatnya karbondioksida memang memengaruhi adanya muncul virus baru. Dan semua itu kesalahan manusia, ya. Ditambah perubahan iklim yang sudah makin menjadi.

    Ya, begitulah, entah apa yang sebenarnya mendalangi Covid-19. Entah kita, atau memang ada something di dalamnya. 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s