Movie

Jurnal Api: Our Mothers’ Land

Menonton film bagi sebagian orang merupakan sebuah perjalanan spiritual—jika tidak terlalu berlebihan bila dianggap sebagai glorifikasi—bagi sebagian orang. Our Mothers’ Land akan mengantarkan kita untuk menemukan hal-hal sederhana yang kerap kali kita sepelekan di rumah, di kantor, bahkan di ruang-ruang perkuliahan.

Our Mothers’ Land atau Tanah Ibu Kami adalah sebuah film yang diproduksi oleh THE GECKO PROJECT dan MONGABAY pada tahun 2020 dengan 2 versi dalam bahasa Indonesia dan Inggris.

Dalam prolognya kita akan dijelaskan bahwa Indonesia merupakan salah satu pengekspor terbesar komoditas minyak sawit, batu bara, nikel, gas, dan karet. Di seluruh pelosok negeri di Indonesia, ratusan bahkan ribuan masyarakat di pedesaan vis a vis dengan perusahaan yang berusaha merampas tanah dan sumber daya alam yang terkandung di dalamnya.

“Dalam beberapa kasus, perlawanan dipimpin oleh perempuan.”

Our Mothers’ Land

Di awal, kita akan diajak Febrina Firdaus—seorang jurnalis independen—bertemu perempuan-perempuan pemberani yang tersebar di beberapa titik api perlawanan di Indonesia. Kita akan diajak ribuan kilometer melintasi Indonesia untuk menemui perempuan-perempuan pemberani tersebut.

Cerita pertama kita akan bertemu dengan Bu Sukinah dan perempuan-perempuan pemberani di Pegunungan Kendeng Utara, Rembang, Jawa Tengah. Kita akan mendengarkan nada-nada sumbang pinggir jalan atas perjuangan mereka mempertahankan tanahnya demi menjaga keberlangsungan hidup antara manusia dan alam. Nada-nada yang kerap kali dianggap minor dan tidak diakui eksistensinya bagi masyarakat kebanyakan, terutama dari kita yang hidup di perkotaan.

Konflik ini berawal pada dekade 2010-an, penduduk Desa Tegaldowo mengetahui rencana PT Semen Indonesia hendak mendirikan pabrik dan menambang pegunungan mereka. Pada 2014 ketika pembangunan pabrik dimulai, sekitar 100 perempuan melangsungkan aksi di lokasi pembangunan pabrik. Mereka bertahan—dengan membangun tenda—di sana selama beberapa bulan.

Perjuangan mereka memuncak dalam eskalasinya pada tahun 2016, dengan menanam kakinya di semen tepat di depan Istana Presiden dengan diwakili 9 perempuan—yang di kemudian hari dikenal sebagai 9 Kartini Kendeng. Bahkan pada 2017, mereka harus kehilangan saudara seperjuangan mereka, Bu Patmi yang meninggal pada usia 48 tahun karena serangan jantung pasca melangsungkan aksi di Jakarta.

BACA JUGA: Food, Inc.

Perjalanan kita kemudian berlanjut ke Mollo, Nusa Tenggara Timur. Konflik itu berlangsung pada akhir dekade 1990-an hingga 2000-an, ratusan perempuan menduduki kawasan pegunungan Mollo untuk membentengi wilayah adat mereka melawan perusahaan tambang. Bagi masyarakat adat di Mollo, gunung batu itu sakral.

Para perempuan adat membawa perkakas tenun mereka ke pegunungan dan menenun selama berminggu-minggu sebagai upaya menghalangi para investor. Febrina Firdaus kemudian mengajak kita bertemu Lodia Oematan salah satu mama-mama yang ikut melangsungkan aksi di pegunungan itu.

Menenun adalah salah satu cara bagi mama-mama untuk mengambil hati para pekerja-pekerja yang bertugas mengebor tambang tersebut. Kekerasan fisik dan psikis pun tak pelak harus mereka terima dan membekas hingga hari ini.

Di sisi lain ada perempuan lain yang dianggap sebagai inisiator aksi perlawanan tersebut, yaitu Aleta Baun. Baginya meskipun dia anak seorang kepala suku ketika itu, namun stigma miring tetap melekat kepada perempuan, sehingga pada waktu itu dia harus berjuang lebih keras untuk mendapatkan kepercayaan dari masyarakat di sana bahwa tanahnya tengah berada dalam ancaman korporasi tambang.

Bagi Aleta Baun, alam terlalu kompleks untuk ditundukkan dengan rasio kalkulatif. Keragaman alam sangat luas dan unik, sehingga tidak bisa ditundukkan dengan rasio kalkulatif yang kemudian ujungnya dijadikan sebagai komoditas. Hubungan orang Mollo dengan alam begitu dalam, sehingga mereka rela berkorban untuk menyelamatkannya.

Setelah itu berjalanan itu berlanjut ke Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah. Kita akan disambut dengan hangat oleh sapaan Eva Bande. Seorang aktivis yang sempat dipenjara dengan dalih hasutan karena mengorganisir petani yang tanahnya dirampas oleh elit lokal yang akan menjadikan tanah tersebut sebagai perkebunan sawit. Dia divonis 4 tahun pejara dan ditahan bersama 23 orang lainnya.

Penangkapan 23 orang lainnya tersebut kemudian mendorong para keluarga-keluarga yang ditinggal oleh suaminya karena ditangkap untuk membangun koperasi. Koperasi tersebut kemudian menjadi alternatif penghidupan bagi para keluarga yang ditinggalkan. Trauma psikis pun harus diterima para keluarga, mereka takut jika kedatangan orang-orang yang tidak dikenal ke rumah mereka.

Terakhir, Febrina Firdaus akan mengajak kita ke titik paling barat Indonesia, yaitu Banda Aceh, Aceh. Dia akan mengajak kita bertemu dengan Farwiza Farhan seorang aktivis yang fokus mengadvokasi Hutan Leuser. Perempuan pemberani yang keluar masuk ruang-ruang pemerintahan untuk berdebat di meja-meja sidang sebagai bentuk perlawanan dalam menjaga ekosistem Hutan Leuser.

Cerita-cerita ini tentu saja buan hanya soal Sukinah, Aleta Baun, Eva Bande, atau bahkan Farwiza Farhan. Cerita-cerita ini merupakan percikan-percikan api dari suara-suara perlawanan perempuan yang kerap kali dianggap masyarakat kelas dua dalam masyarakat kita. Amplifikasi suara-suara oleh kita merupakan bentuk dukungan kita terhadap perjuangan mereka.

Mungkin saja banyak perempuan-perempuan lainnya yang memang tidak terdengar suaranya di media arus utama, namun suaranya lantang di tengah-tengah perlawanan di simpul-simpul kecil di berbagai daerah di Indonesia.

Membongkar krisis sosial-ekologis di Indonesia tanpa membongkar diskriminasi gender hanya akan mengejawentahkan kulit-kulitnya saja, karena pola-pola maskulinitas yang melekat pada budaya patriarki akan terus ada dan beralih rupa.

Film Our Mothers’ Land bisa ditonton melalui tautan di bawah ini.

Standard

28 thoughts on “Jurnal Api: Our Mothers’ Land

  1. Dulu pernah baca kisah yang bersangkutan dengan PT Semen Indonesia itu, cuman lupa nama desanya huhu. Ga bisa ngenayangin gimana mereka mengatasi trauma jika ada orang baru masuk ke daerah mereka. Aku pribadi aja kadang suka kesel jika ada yg bilang “ibu kota mau pindah kalimantan, bahagia ya kamu, nanti ada kereta disana” oh iya btw aku asalnya dari kalimantan, kek apa ya dikalimantan tuh panas pol walaupun banyak hutan, ga kebayang betapa panasnya disana kalo jadi kota 😢

    Like

  2. Ayu Natih Widhiarini says:

    Benar-benar kisah yang menarik tentang perempuan.. bagaimana perjuangan seorang perempuan untuk mempertahankan lingkungannya dari pembangunan yang massive.

    Mau nonton filmnya ah besok mumpung libur

    Like

  3. sandraartsense says:

    Tertarik banget pengen nonton, baca review nya kok ikutan pilu… Rasanya ngga ada apa2 nya dibandingkan beliau2 pahlawan perempuan ini… Semoga perjuangan ini bisa membawa berkah aamiin

    Like

  4. Gioveny says:

    Dulu pernah tau kasus yg pabrik semen itu. Nggak nyangka kalau sampe didokumentasikan sebaik ini. Perjuangan mereka memang patut diapresiasi lebih

    Like

  5. Dari tanah adat sampai yg labelnya udah masuk hutan lindung, kalau ada investasi ngocor kayaknya jadi ga ada beda. Yg nyebelin yg punya duitnya paling anteng ongkang kaki di kantor yg entah di mana, yg di garis depan ngerahin aparat sama preman. Cerita para inisiator perlawanan, utamanya para perempuan ini, penting banget untuk terus disuarakan.

    Like

  6. Saya belum pernah nonton, informasi adanya film ini pun baru baca lewat artikel ini. Menandakan saya ketinggalan banyak langkah dari para penikmat film yang bertemakan “perlawanan”. Padahal dari ulasan ini, banyak hal menarik yang bisa dimaknai, terutama keberanian bersuara para perempuan tangguh yang menjaga tanahnya. Terima kasih sudah berbagi mas.

    Like

  7. Nuning W says:

    Saya jadi ingat koleksi buku sendiri yang punya cerita serupa, bukunya terbitan Kompas Atau buku dari Ratna Sarumpaet .. Sangat bagus dan menyentuh hati seperti kisah our mother land ini. Saya pribadi menyukai kisah-kisah yang mengangkat gender wanita di daerah, tidak sekedar inspiratif tetapi membuka mata ttg bagaimana perjuangan mereka menyuarakan hak dan keadilan

    Like

  8. Pemaparannya padat sekaku tanpa melihat filmnya aku bisa membayangkan bagaimana film ini digarap.

    Aku sebagai anak seorang petani dan pernah turun ke jalan mengikuti aksi2. Padahal saat itu usia bisa dibilang muda rasanya ngos2an.

    Bagaimana dg mereka, para mama-mama, dan perempuan di bagian2 Indonesia ini.

    Indonesia emang kaya. Tapi sedih sekali jika kekayaan ini harus didominasi oleh hanya sebagian kecil orang dg niat komersil lalu mengorbankan masyarakat lokal apalagi sampai meninggalkan trauma.

    Sedih kali aku membaca pernyataan “perempuan dipandang sebagai kelas 2”.

    Faktanya, dari film ini kita diajak mengetahui peran perempuan ya

    Like

    • Terima kasih atas pendapatnya terkait pengalaman pribadinya. Semoga sehat sekeluarga ya, salam untuk keluarga.

      Memang perempuan sering dicirikan sebagai kelas 2 di masyarakat patriarkis pada umumnya. Tapi bukan berarti kita tidak punya pendapat lain selain yang ditawarkan oleh stereotipe masyarakat umum.

      Like

  9. Artikel yang bagus kak, dari membaca artikel ini kerasa banget betapa tangguhnya para perempuan yang berani menyuarakan hati masyarakat untuk menyelamatkan tanah atau alam Indonesia. Bagus banget kisah ini dianggat menjadi sebuah film.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s