Movie

Jurnal Api: A Single Spark

A Single Spark adalah sebuah film biopik tahun 1995 dari Korea Selatan yang disutradarai oleh Park Kwang-su.

Film ini merupakan suara seorang intelektual bernama Kim Yong-su mengenang tahun-tahun kelam dari kediktatoran Park Cheng-hee dan saat dia menghabiskan waktu menulis sebuah buku tentang kehidupan seorang pemimpin serikat yang bakar diri untuk membela ide-idenya pada tahun 1970.

Film ini menampilkan Kim Yong-su sebagai narator dengan alur campuran sebagai bentuk refleksi kejadian sekarang dan masa lalu.

BACA JUGA: Our Mothers’ Land

Latar awal film ini mengambil waktu 1970 di mana banyak aktivis politik mati lantaran melawan kediktatoran militerisme Korea Selatan.

Film ini mengungkap sisi gelap kehidupan pabrik-pabrik di Korea Selatan secara runut bagaimana hak-hak buruh tidak didapatkan dengan baik. Dalam salah satu scene seorang buruh perempuan harus menderita tuberkulosis karena ruang kerja yang sempit tanpa ventilasi yang baik dan terletak di basemen sebuah gedung. Tapi, majikan mereka bergeming tanpa mengindahkannya.

Film Park berangkat untuk membuka tabir tahun-tahun kelam Korea Selatan di bawah diktator militer sambil memberikan apresiasi kepada para pahlawan yang berani menentang kediktatoran ketika itu.

Jeon Tae-Il adalah seorang aktivis buruh pada 1960-an yang melakukan bakar diri sebagai isyarat protes terhadap kegagalan pemerintah untuk menghormati hak-hak buruh yang telah diabadikan dalam hukum.

BACA JUGA: Food, Inc.

Sebagai sutradara Park tidak menawarkan film biopik dalam standar umum tentang biografi Jeon, tetapi menampilkan sebuah ruang refleksi tentang pengorbanan diri pemuda berusia 22 tahun itu melalui kaca mata seorang radikal tahun 70-an yang meneliti dan menulis biografi yang ideal ketika mencoba untuk tetap selangkah di depan gerak-gerik kepolisian.

Sangat jauh dari nada dan gaya agitasi-propaganda, film ini berubah menjadi film sunyi tentang titik-titik di mana kehidupan sebagai realitas dan film sebagai seni bertemu kemudian menghasilkan karya yang menakjubkan dalam menguak masa kelam Korea Selatan di bawah kepemimpinan Park Cheng-hee.

Standard

38 thoughts on “Jurnal Api: A Single Spark

  1. yenisovia says:

    Wah sebagai penggemar film korea aku baru tahu film ini kak. Apa ini film baru atau udah lama Kak? Serem juga ya ceritanya. Bener bener kelam. Tapi memang hampir semua negara pernah mengalami kekelaman ya tetmasuk korea selatanb

    Like

  2. Sepertinya film yang real sekali ya tentang perbudakan buruh. Biasanya aku menghindari film semacam ini. Karena pahitnya realita dan ketidakacuhan orang-orang yang berwenang.

    Like

  3. Saya belum pernah nonton film ini nih. Ini based on sejarah ya. Kalau merunut, memang Indonesia dan Korea itu punya kemiripan sejarah politik. Sama-sama pernah dipimpin diktator dan mengalami represi militer. Bedanya, mereka duluan reformasi, Indonesia sekitar sepuluh tahun kemudian. Masalah perburuhan, sampai sekarang juga masih jadi problem. Ada drakor yang sorot masalah buruh itu, yang main IU. Tapi lupa judulnya.

    Like

  4. kalau aku diposisi buruh itu, akan rsign deh ya. karena kantor nggal support, terutama ventilasi. wajar jika kerjapun jadi kuang nyaman hingga memunculkan penyakit serius

    Like

  5. Penasaran ama film kediktatoran ini. Film biopik pasti menarik utk ditonton. Aku coba cari ah di situs streaming film. Kesukaan aku banget nih kalo soal Korea yg lama2.

    Like

  6. Dilihat dari reviewnya kayaknya filmnya wajib ditonton nih, apalagi tema ini jarang diangkat ke film modern jaman sekarang. Ada nggak sih ini di netflix?

    Btw, salut banget sama Jeon Tae Il, usia 22 tahun udah melakukan aksi ekstrim sekaligus demi membela kawan-kawan buruh.

    Like

    • Kayaknya gak ada deh di Netflix. Aku nonton streaming di Youtube. Yep! Jeon Tae Il ini memang menjadi salah satu tokoh sentral perjuangan buruh di Korea hingga dibuatkan monumen untuk mengingat perjuangannya.

      Like

  7. film yang diambil dari kisah nyata ya.. mengingat perjuangan si pemuda 22 tahun dengan bakar diri sebagai protes terhadap hak-hak buruh . kalau udah film yang diangkat kisah nyata, biasanya cukup lumayan ditonton

    Like

    • Bener banget, kita bisa belajar sejarah dari sebuah film. Belajar dari banyak perspektif, karena 1 peristiwa sejarah bisa diinterpretasikan dalam berbagai sudut pandang mulai dari pro sampai kontra. Kita harus cermat dalam memilahnya.

      Like

  8. Ugik Madyo says:

    Aku belum tahu tentang film ini. Jadi penasaran dengan film ini. Aku jarang banget lihat film Korea selatan yang membahas tentang sejarah modern Korea. Apalagi yang ambil setting masa kediktatoran militer.

    Like

  9. Firmansyah says:

    Jujurly, bukan tipikal genre film yang saya suka sih. Tapi bisalah jadi rekomendasi ketika saya lagi butuh film bertema heroik dan politik untuk nobar (nonton bareng) teman atau murid di sekolah. Thanks for the review, Kak.

    Like

  10. Seperti seru sekali kalau nonton langsung filmnya ya, Kak. Saya sendiri baru tahu ada film korea yang seperti ini. Pastinya ada pelajaran berharga juga di dalamnya yang bisa kita dapatkan.

    Like

  11. Catatan sejarah yang difilmkan ini selalu bikin merinding. Kebanyang banget pas terjadi di masa itu. Korsel ternyata emang dari dulu udah keren kalo bikin film ya, bener-bener totalitas.

    Like

  12. Dari ulasan tentang film single spark ini sedikit banyak bisa mendapatkan pencerahan bahwa perihal sejarah masa lalu, korea selatan ternyata punya masa silam yang kelam. Hal ini bisa menjadi pembelajaran bagi semua, terkhusus pecinta hal-hal yang berbau korea kalau ternyata ada sisi gelap masa lalu korea selatan yang harus diketahui.

    Dan beruntungnya dengan adanya film ini sedikit banyak bisa membuka minat untuk kembali mengulas sejarah masa lalu

    Like

    • Setiap negara menyimpan luka mereka sendiri Kak. Tapi yang menarik dari luka itu adalah mereka mau menerima luka itu atau tidak.

      Nah di Korea Selatan mereka sudah mulai menerima luka masa lalu mereka, sehingga para sineas mulai berani mengulik soal luka tersebut. Di negara lain belum tentu, apalagi di Indonesia.

      Like

  13. Berati nonton film ini bisa sekalian belajar sejarahnya juga, tapi miris juga pekerja wanita sampai TBC, tega yak..
    Namun semoga cukup di masa itu aja sih ya. Di jaman now udah gak ada lagi kejadian tersebut berulang.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s