Letter to Aksara

Jurnal Api: Sampah Popok Aksara

Semenjak menikah, banyak sekali mitos berhamburan keluar dari desas-desus tetangga, orang tua, bahkan beberapa kawan yang masih sangat lekat dengan mitos terutama di Sidoarjo. Mitos-mitos itu kemudian berusaha dipaksakan untuk masuk ke lubang-lubang telinga milikku dan Iza.

Mitos mulai dari orang yang baru menikah tidak boleh ikut nyapu dan bersih-bersih rumah. Mitos soal apa saja yang boleh dan tidak dilakukan selama masa kehamilan, hingga mitos-mitos aneh yang acap kali lumrah terdengar di kalangan masyarakat desa terutama di Jawa Timur.

Tapi kali ini saya akan sedikit cerita soal sampah popok Aksara yang baru berumur empat belas hari. Setidaknya dalam sehari Aksara bisa berganti popok sekali pakai sebanyak 4-5 kali. Hitungan itu lebih sering bertambah tinimbang berkurang, tergantung kondisi tubuh Aksara dan lingkungan sekitar.

Karena beberapa hari terakhir Sidoarjo sedang dilanda musim hujan yang cukup tinggi intensitasnya. Kondisi ini tentu saja sedikit banyak akan mempengaruhi kondisi tubuh Aksara dan dampaknya akan meningkatkan intensitas pergantian popok Aksara.

BACA JUGA: Afryza Jagad Aksara

Salah satu mitos soal sampah popok bayi adalah tidak boleh dibuang di tempat sampah lantaran proses akhir pengolahannya jika sampah sudah sampai di TPA—Tempat Pembungan Akhir—akan dibakar. Dibakarnya popok bayi tersebut akan seketika membuat pantat bayi suleten (baca: melepuh)—tentu saja saya sangat setuju dengan pernyataan ini jika popok bayi tersebut dibakar serempak dengan pantat bayi tersebut.

Saya yang sempat berdiskusi kecil degan Iza tentang pilihan-pilihan untuk membuang sampah popok bayi Aksara kemudian membuat sebuah keputusan bahwa sampah tetaplah sampah, maka harus dibuang di tempat yang seharusnya. Menyetujui atau tidak sebuah mitos adalah sebuah keputusan yang merdeka dan siapa saja boleh mempertanyakan atau bahkan menolaknya mentah-mentah.

Tapi, karena alasan kesehatan pula, untuk mencegah ruam tumbuh di pantat Aksara. Kami akhirnya mempunyai siasat dan memutuskan untuk menggunakan popok kain di siang hari—tapi tentu saja pilihan ini akan menambah tumpukan cucian kamu. Kemudian baru menggunakan popok sekali pakai di malam hari.

Di samping untuk menghemat pengeluaran anggaran popok Aksara, kemudian mencegah ruam tumbuh di pantat Aksara, tentu saja siasat untuk berguna untuk mengurangi sampah popok sekali pakai meskipun masih jauh dari angka penumpukan sampah secara global.

Tapi, persoalan yang lebih jauh adalah dampak pasca kita membuang sampah popok bayi ke sungai—membuang sampah popok bayi ke sungai adalah alternatif cara yang disediakan oleh masyarakat yang percaya akan mitos tersebut. Dalam data yang berhasil saya himpun dari Mongabay—berdasarkan riset Bank Dunia tahun 2017, menunjukkan bahwa popok sekali pakai menjadi penyumbang sampah peringkat dua terbanyak di laut, dengan angka sebesar 21%.

Di peringkat teratas sampah organik mendudukinya dengan angka capaian 44%. Selain itu disusul pada peringkat ketiga adalah tas plastik sebesar 16%, sampah lain-lain 9%, pembungkus plastik 5%, beling kaca dan metal 4%, serta paling buncit ada botol plastik sebesar 1%.

Rentetan dampak sampah popok bayi tersebut belum usai, jika sampah popok bayi tersebut dibuang ke sungai ada beberapa dampak yang bisa mempengaruhi ekosistem sungai. Pertama, penurunan hormon seks & perubahan kelamin pada biota air. Kedua, penurunan kemampuan menetas bagi telur ikan. Ketiga, kegagalan reproduksi total. Terakhir, sebagai sarana pembawa bakteri E. coli.

BACA JUGA: Doa yang Panjang

Berdasarkan laporan Ecoton setidaknya sekitar 3 juta sampah popok bayi dibuang oleh masyarakat ke sungai atas temuannya di aliran sungai besar seperti Kali Brantas, Bengawan Solo, Citarum, dan Progo.

Tentu saja, pencemaran tersebut akan sangat mempengaruhi kehidupannya secara langsung maupun tidak langsung. Bagi kamu yang mengandalkan sungai sebagai kebutuhan seperti yang disediakan oleh PDAM, kamu tentu saja akan sangat bergantung terhadap kualitas air yang kamu butuhkan.

Atau bagi kamu yang sering menghabiskan waktu untuk memancing di spot-spot liar seperti rawa atau sungai, maka saranku adalah waspadalah jika ikan yang kamu dapatkan kemudian kamu bawa pulang ke rumah lalu dimasak dan dihidangkan ke orang tuamu, pasanganmu, bahkan anakmu beracun karena tindakanmu yang membuang sampah popok bayi ke sungai.

Belum lagi kalau banjir dan air sungai meluap, lalu anakmu lagi asyik main air luapan sungai itu, dia lari-lari ke sana kemari dan tertawa. Iuuehhh…

Tentu saja data-data yang saya paparkan di atas sontak akan membuat kamu berpikir ulang soal mitos-mitos yang berkelindan di tengah masyarakat atau bahkan keluarga kecilmu. Atau, bisa saja kamu menganggap data-data tersebut hanya bualan dari mereka yang mengeruk keuntungan dari naiknya isu sampah popok bayi tersebut.

Pilihan-pilihan akan tetap tersedia dengan bebas dan merdeka. Memilih menjadi sebagai orang tua yang bertanggung jawab kepada masa depan anaknya 10 sampai 30 tahun mendatang adalah salah satu pilihan yang bisa dilakukan dengan membuang sampah popok bayi ke tempatnya—TPS atau TPA. Atau, menggunakan popok kain yang bisa dicuci.

Memilih menjadi orang tua yang percaya terhadap mitos-mitos tersebut juga tidak ada salahnya, hanya saja mungkin jika mitos tersebut kemudian kamu ceritakan kepada anakmu yang nantinya telah berkeluarga dan memiliki anak. Kamu akan ditertawakan dan dicap sebagai orang tua yang kolot, tidak mau belajar, atau bahkan anti terhadap ilmu pengetahuan—Naudzubillah Min Dzalik.

Esai ini juga dimuat dalam Submisi Zine edisi Maret 2021, sila klik tautan di bawah untuk mengunduh Zine.

Standard

12 thoughts on “Jurnal Api: Sampah Popok Aksara

  1. Iyaa betul, semakin bertambah pengetahuan, semakin cerdas menyikapi, biasanya org buat aturan atai mitos gitu sesuai dengan zamannya, jadi kita pun memahaminya sesuai dengan zaman kita juga. Informatif sekali.

    Like

  2. Mitos ini terkadang memang luar biasa, lebih dipercaya daripada keyakinannya sendiri, tapi memang perlu perlahan dalam mensikapi.

    Jika perlu, diadopsi sehingga dapat beradaptasi sesuai keyakinan yang benar, pasti hasilnya akan lebih sempurna.

    Tapi saya setuju dengan diskusinya, bahwa sampah tetaplah sampah, apapun mitosnya, dibakar atau tidak, tetap akan menjadi polusi.

    Kalau semisal digoreng begitu, tetep melepuh tidak, mas? 😀

    Like

  3. Ayu Natih WIdhiarini says:

    Mitos tentang sampah popok bayi gak boleh dibakar juga berlaku di daerah saya Mas. Namun sekarang masyarakat mulai cuek aja, mereka cenderung lebih sering membakar sampah sekarang daripada membuangnya ke TPA. Tapi kadang ada tetangga yang buang sampahnya deket dengan pemukiman shingga polusinya kerasa banget.

    Like

  4. Persoalan banget masalah popok bayi ini, sering banget nemu yg ngambang sampe gede di kali depan rumah yg ngalirnya ke Citarum.

    Saya di kampung yg ga ada sistem pengangkutan sampah, jadi biasanya popok bayi dibakar sama sampah lainnya. Untungnya karena di lingkungan Muhamadiyah dan Persis jadi anti takhayul dan khurafat hihi.

    Penggunaan popok bayi instan ini juga ada pengaruhnya ke tumbuh kembang anak, apalagi yg ga ngasih toilet training.

    Like

    • Nah itu kadang kita agak tabu kalau bongkar2 mitos gini—dalam kondisi masyarakat tertentu. Tapi ya namanya juga penasaran jadi akhirnya aku ulik sekalian.

      Bener banget soal soal toilet training, membantu dia menyadari kondisi tubuhnya sendiri.

      Like

  5. Sumpah aku baru denger mitos kalo bakar sampah popok bisa kebakar juga pantat anaknya. Wkwkwk. Berat banget tugas seorang ibu untuk mengganti popok anaknya yaaa meski tidak selamanya.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s