Interview

Jurnal Api: Dari Deltras Turun ke Hati

“Anda dapat mengubah istri Anda, politik Anda, agama Anda, tetapi tidak pernah, tidak pernah bisa mengubah tim sepakbola favorit Anda.”

Eric Cantona

Fanatisme secara sederhana bisa dimaknai sebagai bentuk rasa cinta tentang keyakinan atau kepercayaan yang begitu kuat terhadap suatu entitas politik, agama, hingga sepak bola. Fanatisme sendiri kemudian mempunyai wajahnya uniknya masing-masing tergantung konteks di mana dia tumbuh dan berkembang.

Seperti kutipan di atas bagaimana Eric Cantona memaknai sepak bola begitu kuat hingga menomorduakan agama, politik, bahkan pasangan hidupnya sendiri. Dari kutipan yang dilontarkannya, menunjukkan bahwa sepakbola adalah segalanya bagi dirinya.

Tapi jika kita sedikit bersabar—sembari menunda untuk berkomentar terlalu cepat—dan mencoba untuk menelusuri kultur sepakbola Jerman terlebih dahulu, kita akan menemukan wajah lain fanatisme terhadap sepakbola yang dilandaskan secara kuat oleh pandangan politik mereka.

Sebut saja St. Pauli, klub sepakbola yang bermukim di Kota Hamburg tersebut mengusung perlawanan terhadap fasisme, kapitalisme, serta rasisme yang dituangkan dalam fanzine mereka yang berjudul “Millerntorn Roar!”.

Perlawanan tersebut kemudian termanifestasi dalam sebuah simbol tengkorak dengan sepasang tulang bersilang. Simbol tersebut dimaknai sebagai perlawanan orang miskin kepada mereka yang kaya.

Belum lagi jika kita mencoba menengok geliat fanatisme di Amerika Latin, di Argentina misalnya ada sebuah agama yang bernama agama Iglesia Maradoniana. Sebuah agama yang lahir berkat kepiawaian Maradona bermain sepakbola hingga dia ditahbiskan sebagai Dios (Tuhan) bagi para pengikutnya.

Iglesia Maradoniana atau Gereja Maradona adalah agama yang didirikan oleh tiga fans berat Maradona, yaitu Hector Campornar, Alejandro Veron, dan Herman Amez, di Kota Rosasio, Argentina pada 1998. Mereka mencoba untuk mengumpulkan fans berat Maradona untuk berbagi cinta dan kasih sayang kepada idola mereka.

Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Mungkin peribahasa ini cukup menggambarkan fenomena menarik tentang fanatisme di dunia sepakbola dari berbagai belahan dunia. Fanatisme menjadi dalih mereka untuk setia terhadap suatu klub sepakbola atau pemain sepakbola.

Fanatisme juga menampakkan wajah yang berbeda di Indonesia, rasa cinta tersebut tumbuh dan berkembang di Kabupaten Sidoarjo. Cinta itu melekat pada sebuah klub bernama Deltras FC, sebuah klub kebanggaan masyarakat Sidoarjo.

Salah satu aliansi kelompok suporter yang masih merawat rasa cinta dan ingatan mereka terhadap Deltras adalah Sector 7. Sebuah aliansi kelompok suporter yang mendiami tribun Sector 7 sejak Deltras memainkan laga pertamanya di hadapan masyarakat Sidoarjo di Stadion Gelora Delta.

Dari beragamnya kelompok atau individu yang bernaung di Sector 7 membuat setiap pengalaman mereka saat terkait saat kali pertama jatuh cinta kepada Deltras menarik untuk didengarkan saksama.

“Kalau dari saya sendiri pribadi Mas ya, saya jatuh cinta, mulai mencintai tim sepakbola lokal kabupaten saya ini sedari SD. Saat itu memang saya juga dikenalkan dari Bapak, Bapak cerita bahwa di kota ini, Kota Sidoarjo ini ada beberapa tim. Ada Deltras Sidoarjo, ada Persida Sidoarjo, sama dulu itu Perkesa 78, ya, itu katanya Bapak kayak gitu,” kenang Ibul selaku suporter yang bernaung di Sector 7.

“Lantas, kalau kata Bapak itu yang paling dikenal atau yang paling viral ibaratnya kayak sekarang itu, di Sidoarjo itu, Deltras. Jadi mulai saat itu, saya ibarate ngunu sek cilik opo seh sakjane, tim apaseh iki ngunu lo, bertanya-tanya. Terus sama Ebes—nama panggilan salah satu suporter yang juga bernaung di Sector 7, Ebes kan kebetulan tetangga depan rumah saya pas,” tukasnya.

“Terus dulu waktu ada match itu, saya pertama lupa saya lihat match lawan apa, saya diajak sama Ebes. Sekitar kelas 4 (atau) 5 SD lah, diajak sama Ebes itu, saya baru itu, baru maksudnya ngerti oh iki ta tim sepakbola kabupatenku sing paling dikenal uwong. Jadi mulai saat itu, aku jatuh cinta sama Deltras hingga sekarang, kayak gitu Mas,” ceritanya.

Cerita Ibul terkait rasa jatuh cintanya untuk kali pertama kepada Deltras kemudian diamini oleh kawan-kawan suporter yang juga bernanung di Sector 7. Mereka juga dikenalkan oleh orang tua mereka terlebih dahulu sebelum bisa menonton dan mendukung sendiri secara langsung di stadion seperti cerita dari Fiqih berikut ini.

“Sama sih Mas, sama-sama dikenalkan sama Bapak. Saat itu juga SD, tapi waktu pertama kali liat Deltras itu sekitar 2007. Saat itu Deltras uji coba lawan Persema, saat itu diajak sama temen-temen di rumah ayo rek pedaan ndelok Deltras di GOR. Saat itu ya masih kecil ya, kurang tau juga seh, saat itu baru pertama juga. Terus diajak liat uji coba saat itu, pertama kali liat itu ya langsung jatuh cinta, Wow! Mulai 2007 itu,” terang Fiqih sebagai suporter yang bernaung di Sector 7.

“Terus jarang seh liat lagi karena masih kecil, terus sekitar 2008, agak jauh seh sejarahnya. Pas 2008 diajak Bapak langsung pas itu COPA DJI SAM SOE diajak sama Bapak terus mulai 2009 itu mulai rutin nonton sama temen-temen SD,” lanjutnya sembari mengingat.

“Kalau itu (sewaktu 2009) beli tiket, cuman gandengan sama temen, jadi 1 tiket buat 2 orang,” tukasnya.

Di seberang microphone yang lain, Iceeks mencoba menjabarkan memorinya tentang jatuh cintanya untuk kali pertama dengan sebuah klub lokal di tanah kelahirannya, Deltras Sidoarjo.

“Kalau pertama kali bisa cinta, bisa suka sama Deltras sekitar tahun 2006 diajak Bapak sih juga. Diajak Bapak, diperkenalkan masuk ke stadion, melihat kehebohan temen-temen suporter. Pada saat itu 2006, wajah, wajah-wajah suporter masih dicat merah putih, bawa terompet, bawa spanduk, bawa syal, totalitasnya untuk temen-temen Deltamania 2006 itu sangat bisa diacungi jempol ya dengan pemain-pemain yang seperti itu,” ungkap Iceeks dari Sadboys Lads Club sebuah komunitas sendiri di Sector 7.

“Tapi pas 2006 saya belum ngerti satu-persatu pemainnya itu siapa, soale kan 2006 kalau nggak salah saya SD kelas 6. Nek gak salah seh ya, dan saya pertama kali masuk ke stadion itu 2006, kalau nggak salah lawan Persis Solo, itu Deltras lawan Persis Solo, Liga itu dan saya bener-bener merasakan kalau jaman sekarang sih kata-katanya euforia. Atmosfer di dalam stadion itu bener-bener saya rasakan dan pada saat itulah saya mungkin menamakan Deltras itu cinta pertama saya,” jelasnya.

“Bukan seseorang yang saya jatuh cintakan, tapi tim sepakbola Sidoarjo yang membuat saya jatuh cinta,” tutupnya sembari tersenyum sendiri.

Penasaran dengan interview lengkapnya? Kawan-kawan bisa mampir untuk mendengarkan podcast JURNAL API episode #5 melalui tautan di bawah ini.

Kepingan-kepingan memori mereka tentang kali pertama mereka jatuh cinta kepada Deltras adalah fondasi penting untuk merawat fanatisme. Sebuah rasa jatuh cinta yang terus tumbuh subur di Sector 7, yang berfungsi sebagai bahan bakar para suporter untuk setia mendukung Deltras Sidoarjo dalam suka maupun duka.

Standar

27 respons untuk ‘Jurnal Api: Dari Deltras Turun ke Hati

  1. Ping-balik: Jurnal Api: Dari Deltras Turun ke Hati – Sector 7

  2. Aku nggak terlalu suka sepak bola, biasalah cewek kalau nonton bola dilihat siapa pemain yang cakep! Wkwkkw

    Tapi itu dulu, sekarang gak pernah nonton bola lagi. Suami juga lebih suka voli daripada sepak bola. Tapi memang salut sih sama supporter sepak bola, paling rame, paling solid, paling totalitas. Apa karena fanatisme tadi ya?

    Suka

  3. Meirna Fatkhawati berkata:

    keren buat podcast juga.
    kak rizky sendiri apakah fanatisme juga?
    fanatisme itu jatuhya dampak positif atau negatif kak?

    Suka

  4. Fanatisme itu terjadi gak hanya di klub sepakbola tapi juga di bidang lain. Harus hati2 supaya gak over proud dan ngalahin logika. Keren deh Kak pengantar podcast-nya, nanti kalau lagi lowong saya coba dengerin deh hehe 😅

    Suka

  5. Ya faktor fanatisme tiap org berbeda-beda ya dan kutipan di awal ini yg udah beda negara tentu beda lagi prinsipnya… Trus kalau fanatismenya masing2 individu punya kadar2nya ya mas, yg penting gak fanatisme terbutakan gitu mas, hehehe

    Suka

  6. Waktu punya cowo yang gak suka nonton bola sedangkan daku suka, memang aneh sih Hahah.

    Berarti nanti nyari pasangan hidup, kudu tanyain dulu dah, suka nonton bola atau nggak 😂

    Suka

  7. Bahkan sebagian orang bilang fanatisme ke sepak bola sudah seperti ke ‘agama’. Serunya loyal dan support sesama anggotanya, saya sering sih ngerasain ini. Kalau pas sakit malah sesama teman tongkrongan hobi yang duluan ada. Yang penting nggak jatuh ke fanatisme berlebihan.

    Suka

  8. Nuning W berkata:

    Hehe, aku setuju banget ini, tidak bisa mengubah tim favorit sepakbola.. saya sama pasangan beda tim bola kesayangan, jadi kalau disuruh nonton bola bareng, haduh malah jadi berabe…

    Suka

  9. Kalau baca Deltras Sidoarjo, suka inget sosok Hariono, nuhun sudah melahirkan gelandang pengangkut air ini dan jadi pemain idola di Persib.

    Ada aliansi suporter Sector 7 ya. Berarti yg Deltamania masih ada atau dia cuma sebutan buat semua pendukung Deltras aja?

    Suka

  10. Ayu Natih Widhiarini berkata:

    Valid ini, hahaha kalau sudah ada yg fanatik di satu club sepak bola, akan sulit diracuni pikirannya untuk beralih ke yang lain. Tidak seperti memilih idola Kpop hihihi.

    Contohnya kakak dan bapak saya yang gemar sekali nonton sepak bola, kalau ada pertandingan sampai pagi pun di ladenin di depan TV. Belum lagi jika tim kesayangannya mencetak gol, teriakannya menggelegar sekali.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s