Letter to Aksara

Jurnal Api: Merakit Bahagia Bersama Odong-Odong

Dengan kondisi ekonomi keluarga kami saat ini, kami memang harus pandai mengatur siasat untuk merakit kebahagiaan kami sendiri. Siasat tersebut tergambar jelas ketika kami mulai menghabiskan waktu untuk bermain bersama Aksara.

Beberapa kali kami dan Aksara menghabiskan waktu bersama di sebuah arena bermain yang biasa tersedia di beberapa mal yang pernah kami kunjungi. Aksara cukup senang ketika kami bersenang-senang dengan permainan yang ada di sana, mulai dari permainan yang menggunakan mesin kemampuan sensorik, hingga permainan yang mengandalkan ketangkasan motorik Aksara.

Tapi, aktivitas ini tentu tidak bisa kami lakukan setiap minggu. Pertimbangan pertamanya adalah soal ekonomi. Kami berusaha mengelola uang yang kami miliki sebaik mungkin tanpa perlu mengenyampingkan hiburan. Tentu jumlah anggaran untuk hiburan ini terbatas.

Setidaknya 2 kali sebulan adalah waktu paling banyak yang bisa kami habiskan untuk bermain di arena bermain mal bersama Aksara. Sisanya, kami menghabiskannya dengan memanfaatkan wahana bermain yang tersedia di pasar malam, pasar kaget, atau tempat-tempat hiburan dengan harga yang relatif murah.

Di desa kami, wahana bermain ini sering kali muncul ketika ada sebuah hajatan besar yang mengharuskan akses jalan raya ditutup. Hajatan di sini bisa bermacam-macam bentuknya, hajatan yang paling sering dibarengi dengan wahana bermain adalah hajatan pernikahan. Sisanya bisa hajatan sunatan, hingga pengajian yang berskala desa.

Cukup dengan uang 20 ribu, kamu bisa merasakan sensasi yang menyenangkan dengan bermain sepuasnya tanpa dibatasi waktu seperti pada arena bermain di beberapa mal—kalau di desa batas waktunya adalah rasa capek.

BACA JUGA: Mengencangkan Ikat Pinggang

Aksara sendiri lebih sering menghabiskan waktunya pada wahana bermain menangkap ikan lele dengan jaring. Terdengar familiar? Ya, salah satu wahana favorit anak-anak ketika bermain di wahana bermain dadakan ini adalah menangkap ikan beneran—bukan ikan plastik atau ikan animasi yang biasa ditawarkan arena bermain di mal.

Harganya pun sangat murah. Hanya dengan 5 ribu, Aksara bisa menangkap ikan sepuasnya tanpa takut kehabisan waktu. Oh ya, dalam wahana ini, anak-anak yang bermain akan dibekali dengan satu jaring kecil dan satu timba kecil yang berisi air. Setelah permainan selesai anak-anak tersebut akan diberi hadiah balon kecil berisi air yang diberi tali—bentuknya mirip seperti medali—sebagai cinderamata telah bermain di sana.

Namun, tidak semua permainan di wahana bermain dadakan ini yang bisa dimainkan oleh Aksara. Salah satunya adalah wahana bermain game watch atau gimbot. Sebuah permainan masa kecil bagi orang-orang menghabiskan masa kecil mereka di era 90an. Gimbot ini disewakan dan diberi timer—waktu di sini bermacam-macam ada yang 5 menit hingga 10 menit. Atau ada yang bermain sampai di kalah atau tamat. Soal harga, masih sama cukup 5 ribu sekali permainan.

Kemudian ada juga permainan lotre dengan menembak bebek yang berjalan, memancing ikan plastik dengan besi sembrani, mewarnai di atas styrofoam, dan yang terakhir adalah odong-odong—dalam konteks ini adalah wahana bermain anak-anak yang rata-rata tarifnya hanya 5 ribu.

Belum lagi jajanan pasar yang harganya relatif murah di kisaran harga 5 ribu saja.

Odong-odong adalah salah satu wahana bermain favorit bagi Aksara—dan mungkin juga bagi sebagian anak-anak lainnya. Dia selalu menghabiskan setidaknya 5 lagu dalam sekali permainan—seharga 5 ribu sepuasnya. Namun, ada juga waktu di mana dia enggan bermain wahana ini lantaran capek dan ngantuk berat setelah bermain di wahana sebelumnya.

Menariknya, odong-odong ini tidak hanya tersedia di wahana bermain dadakan saja. Odong-odong ini seperti entitas yang bisa berdiri sendiri tanpa perlu wahana bermain lainnya—atau tidak terikat pada acara dadakan tertentu.

Salah satu tempat yang beberapa kali kami kunjungi adalah di desa tetangga tempat kami tinggal. Di desa tersebut yang terkenal ramai ketika malam, sehingga berbagai produk jualan hadir di sana mulai dari produk makanan hingga fashion. Odong-odong hadir bagai sebuah oase di tengah hiruk-pikuk perkara ekonomi semata. Dia hadir sebagai opsi alternatif bagi anak-anak untuk melepas bersenang-senang.

Odong-odong tersebut mempunyai sekitar 5 mobil dengan berbagai macam bentuk, mulai dari mobil sedan biasa hingga mobil hardtop. Aksara sering berpindah-pindah mobil ketika bermain di sana, dia tidak memiliki satu mobil favorit tertentu. Dia cukup fleksibel.

Lagu-lagu yang diputar sembari mengiringi rotasi mobil-mobil tersebut adalah lagu yang sering kami nyanyikan bersama di rumah. Lagu-lagu yang easy listening, yang mudah sebagai sarana belajar mengenal kosa kata. Ornamen lain yang tidak kalah penting dalam odong-odong adalah lampu berkelapan yang menambah suasana ceria anak-anak.

Menit demi menit Aksara habiskan bersama kawan-kawan yang baru dia jumpai di sana. Ekspresi tegang di menit-menit awal seketika hilang dan berganti dengan canda tawa sembari melambaikan tangan ke arah saya dan Iza. Sungguh memori yang akan kami simpan selamanya.

Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s