Letter to Aksara

Jurnal Api: Menepi di Pintu Langit

Setelah penatnya hari di tengah padatnya antrean vaksinasi booster pada 28 Maret, kami bertiga kemudian memutuskan untuk pergi jauh. Menepi dari bisingnya deru mesin kendaraan bermotor, dan kepungan asap yang keluar berdesakan hasil dari sisa-sisa pembakaran.

Kami berangkat dari sebuah mall yang terletak di dekat pintu Tol Sidoarjo pukul 12 siang. Perlahan saya memacu mobil sembari menengok indikator bahan bakar yang berada di garis paling bawah. Sehingga tidak fokus melihat jalan.

Sesampainya di depan pintu tol, saya langsung saja masuk ke salah satu pintu yang kosong tanpa melihat terlebih dahulu kemana pintu tol tersebut mengarah–Malang atau Surabaya. Tololnya pintu tol yang saya masuki adalah pintu tol yang mengarah ke Surabaya.

“Sial!” seketika kata-kata tersebut keluar dari mulut sembari tangan menggaruk-garuk kepala.

Sudah 2 kali saya tersesat ketika memasuki pintu ini. Peristiwa pertama terjadi jauh sebelum Aksara lahir. Saat itu, kami belum menikah. Kami beramai-ramai ingin berlibur ke arah Malang (Selatan), tapi karena baru pertama kali masuk tol dan baru beberapa bulan bisa menyetir mobil akhir saya salah masuk pintu tol.

Setelah berputar cukup jauh, akhirnya saya bertemu dengan pintu keluar Tol Waru. Kami sepakat untuk memutar–keluar kemudian masuk kembali melalui pintu tol tersebut. Setelah masuk kembali ke pintu Tol arah Malang kami pun tenang.

Kondisi jalanan yang cukup lengang membuat jarak tempuh menjadi sangat singkat. hanya 45 menit kami sudah sampai di tol pintu keluar Pandaan. Kami mengambil jalur kiri kemudian keluar menuju arah Malang.

BACA JUGA: Merakit Bahagia Bersama Odong-Odong

Beberapa menit setelah tanda pintu masuk Taman Safari Prigen, kami kemudian berbelok ke arah kanan naik terus melewati sawah, ladang, permukiman penduduk, hingga beberapa tempat wisata kecil di samping kanan kiri menjadi suguhan yang kami nikmati.

Sekitar 30 menit dari pintu keluar Tol Pandaan tadi kami sampai di Pintu Langit yang posisinya tepat di ujung kanan jalan yang menanjak. Suasana dingin dan sepi–mungkin karena ini hari Senin–menjadi salah satu hal yang sangat saya nikmati.

“Kapan lagi bisa berlibur di tempat wisata tanpa menemui banyak orang?” pikir saya.

Saya dan Aksara turun terlebih dahulu untuk memberikannya waktu adaptasi terhadap perbedaan suhu yang cukup berbeda dibandingkan di Sidoarjo. Dia sangat senang, berkali-kali jari telunjuknya menunjuk ke arah bianglala yang berhenti. Sesekali dia menunjuk ke arah perbukitan yang terlihat begitu jelas di samping bianglala. Senyum dan tawanya tidak mungkin bisa saya lupakan.

Di dalam mobil, Iza masih menyiapkan beberapa barang, salah satunya baju ganti. Ya, karena kondisi di Sidoarjo yang sangat panas membuat pakaian yang kami gunakan menjadi lepek dan tidak nyaman dikenakan.

Saya kebagian untuk berganti baju terlebih dahulu, di toilet kering yang disediakan oleh pintu langit. Saya memutuskan untuk mandi agar pegal-pegal di tubuh hilang sejenak dan wajah kembali segar. Di musala, Iza sedang salat. Aksara sedang bermain-main berkeliling di sekitar musala. Setelah saya selesai, gantian waktunya saya salat dan mengganti pakaian Aksara. Iza pun bergegas pergi ke toilet untuk berganti pakaian.

Setelah semua sudah siap, kami kemudian berjalan-jalan menyusuri wahana apa saja yang ditawarkan oleh pintu langit. Sekilas ada bianglala yang berdiri kokoh di dekat lahan parkir, tapi setelah saya mencoba menyusuri ke area belakang, ternyata banyak wahana untuk memanjakan anak-anak. Seperti rumah balon, mobil-mobilan plastik, kuda-kudaan plastik, dan banyak lainnya.

Di samping itu, ada juga odong-odong yang disediakan untuk mengantarkan para pengunjung berkeliling menikmati udara dingin dan pemandangan yang ciamik soro. Sayang, kondisi cuaca yang tidak memungkinkan karena turun hujan, membuat kami mengurungkan niat untuk mencoba wahana bermain tersebut. Hujan terjadi sangat deras, disertai angin dan petir yang saling menyambar bergantian.

Setelah menunggu sekitar 10 menit untuk berteduh. Kami kemudian memutuskan untuk membeli makanan saja sembari menanti hujan reda–sembari berharap bisa menikmati wahana bermain di sana. Kami pun kemudian makan bersama, perlahan hujan semakin deras dan lebat. Jarak pandang mata hanya sekitar 5 meter.

Kami menunggu sampai cukup sore—sekitar pukul 3, namun hujan tak kunjung reda, gerimis masih menemani kami. Akhirnya kami memutuskan pulang. Tidak ada rasa kecewa sama sekali, kami menikmatinya, dan berharap bisa bertandang ke sana lagi dengan kondisi cuaca yang mendukung dan ditambah beberapa anggota keluarga agar semakin ramai dan menyenangkan.

Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s