Existence

Jurnal Api: Jadi Bilal Tarawih

Setelah menikah perlahan tapi pasti hidup saya berubah lebih baik. Ya, lebih baik. Jika sebelum menikah saya tidak pernah merasakan puasa Ramadan nonstop, pasca menikah saya merasakan puasa Ramadan nonstop. Tidak berlubang sama sekali–seingat saya.

Masa Kanak-Kanak

Mungkin semasa kanak-kanak, saya sering curi-curi makan di siang hari dengan kawan-kawan sekolah dasar. Sedari kecil saya dan Fajar–adik saya–sering ditinggal mama dan ayah untuk mengurus pekerjaan di luar kota. Praktis tidak ada yang mengawasi saya secara langsung, beberapa kawan di perumahan tempat kami tinggal sering mampir ke rumah untuk sekedar menonton tv atau memakan buah apel yang menstoknya di lemari es.

Rasanya saya ingat betul bagaimana rasanya ikut sahur bersama keluarga di dini hari kemudian dilanjut dengan makan di siang hari. Hahaha sebuah memori yang tidak akan pernah hilang.

Ngomong-ngomong soal sahur bersama, semasa kanak-kanak tepatnya ketika kami pindah dari Surabaya ke Gresik tepat ketika saya naik ke kelas 2 sekolah dasar. Kami sering menghabiskan waktu hampir setiap Ramadan untuk tidur di masjid perumahan.

Jadwal keluyuran kami biasanya dimulai ketika sore menunggu waktu berbuka puasa. Kami biasanya berkumpul di masjid perumahan untuk berebut takjil dan memilih tempat yang strategis untuk bisa mendapatkan takjil pertama–biasanya yang pertama keluar ini menunya enak-enak.

Setelah berebut tempat, kami kemudian duduk berjejer saling berhadapan dengan minuman di gelas plastik serta makanan ringan seperti gorengan atau kue basah. Setelah semuanya selesai kami kemudian melanjutkan salat magrib bersama. Nah setelah salat magrib ini beberapa ada yang memutuskan pulang ke rumah untuk berbuka dengan makanan berat, ada juga yang tidak pulang–karena nggak puasa, hahaha–dan menunggu di pos kamling dekat lapangan multifungsi–kadang jadi lapangan badminton, kadang jadi tempat sepak bola.

Setelah berbuka dengan makanan berat, kami bergegas untuk menuju pos kamling tersebut. Agenda berikutnya biasanya kita diskusikan terlebih dahulu, mau lanjut salat isya terus salat tarawih atau cuma ikut salat isya terus jalan-jalan keliling perumahan. Seringkali kami memilih tidak ikut salat tarawih karena kami ingin segera bermain kembali.

Geng saya dan kawan-kawan dulu memang terkenal cukup bandel dan sering bikin onar di perumahan tempat kami tinggal. Beberapa warga bahkan sempat protes langsung ke keluarga kami, warga yang lain mungkin lebih menitipkan pesan ke warga yang dituakan untuk menasihati kami–karena beberapa orang tua dari kami ini dikenal cukup baik karena kontribusinya di masyarakat.

Ketika agak malam, mungkin 1 jam setelah salat tarawih, kami biasanya bermain sepak bola bersama anak-anak yang sudah lebih tua dari kami. Jika kami masih sekolah dasar, mungkin mereka saat itu sudah sekolah menengah pertama atau atas. Kami bermain “partaian” atau “kloteran” tim yang mencetak 1 gol pertama dia akan menang, dan yang kalah akan digantikan oleh tim lainnya begitu seterusnya–kadang juga peraturannya mencetak 2 gol pertama.

Setelah bermain sepak bola mungkin pukul 11 atau 12 malam, kami langsung bergegas pergi ke masjid perumahan. Dengan waktu yang sudah menunjukkan tengah malam, tadarus Qur’an biasanya akan berhenti, dan masjid menjadi kekuasaan kami para anak-anak bandel. Di waktu ini ada yang memutuskan untuk tidur, ada yang melanjutkan tadarus, dan ada juga yang bermain petasan di sekitar masjid.

Menginjak pukul 3 dini hari, kami mulai membangunkan warga perumahan untuk santap sahur menggunakan pengeras suara milik masjid. Dan dalam proses ini biasanya ada warga yang menggantikan tugas kami.

Setelah digantikan, kami tidak langsung pulang ke rumah, kami berkeliling perumahan menggunakan gerobak sampah yang sudah berisi drum besi yang berfungsi sebagai beduk. Kami menabuhnya bergantian sembari berteriak “Sahur! Sahur!” “Sahur! Sahur!” “Ayo bapak-bapak, ibu-ibu sahur!” Tak jarang kami menggunakan petasan untuk mengusik rumah salah satu warga yang kami anggap menyebalkan, hahaha.

Jika dirasa sudah cukup, kami pun membubarkan diri dan kembali ke rumah masing-masing untuk santap sahur, kadang juga kami kembali berkumpul untuk salat subuh berjamaah. Tapi seringnya kami memutuskan untuk melanjutkan tidur di rumah.

Pasca Menikah

Kembali lagi pada saat ini, ketika saya sudah menikah dengan Iza dan mempunyai satu anak bernama Aksara. Saya seakan sedang masuk pesantren dalam sisa umur saya, saya belajar mengaji, belajar salat tepat waktu, dan belajar menjadi bilal tarawih.

Khusus untuk menjadi bilal tarawih, pengalaman ini adalah kali pertama dalam hidup saya. Saya tidak pernah sama sekali ketika masa kanak-kanak dulu pernah mencoba atau kebagian tugas menjadi bilal salat tarawih. Saya benar-benar kikuk dan salah-salah ketika menjalankan tugas tersebut, padahal saya dibantu teks dengan bahasa latin yang ditulis oleh Iza. Tapi, mungkin ini memang sudah jalannya, saya perlahan menjadi lebih bertanggung jawab dalam agama untuk diri saya sendiri dan keluarga.

Terima kasih untuk momen yang tidak pernah terlupakan ini. Salam untuk kawan-kawan masa kanak-kanak saya dulu, saya kangen. Dan terima kasih juga buat Iza yang sudah sabar dengan saya.

Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s