Book

Jurnal Api: Memeriksa Kembali Hikayat Gajah

Judul: Hikayat Gajah (Sebuah Analisis Kebudayaan dan Kesejarahan)
Penulis: Wildan Taufiqur Rahman
Jumlah Halaman: 92
Tahun: 2022
Penerbit: Pustaka Indis

Gajah merupakan mamalia yang tergabung dalam ordo Proboscidea—hewan yang mempunyai belalai. Proboscidea sendiri diambil dari bahasa Yunani yang mempunyai arti “memiliki hidung”.1 Proboscidea sendiri merupakan salah satu kelompok mamalia yang mencakup gajah dan kerabat mereka yang sudah terlebih dahulu punah seperti mamut dan mastodon.

Meskipun hanya tersisa tiga spesies gajah yang masih hidup hingga saat ini, setidaknya lebih dari 160 spesies belalai yang punah telah berhasil diidentifikasi dari sisa-sisa fosil yang ditemukan di seluruh daratan benua—dalam berbagai rentang waktu—kecuali Australia dan Antartika.2

Sebagian dari mereka diidentifikasi dengan sebutan gomphotheres, mereka berasal dari keluarga yang berbeda dari gajah modern—mereka memiliki gading dan belalai yang pendek.3 Gajah dan mamut adalah satu-satunya kerabat belalai—Elephantidae—yang masih hidup sampai saat ini.

Gajah telah mengalami evolusi sejak zaman purba, ketika gajah mulai bermigrasi ke Amerika Utara. Gajah yang bermigrasi ini kemudian berevolusi menjadi bentuk baru di Amerika Utara, namun pada akhirnya semua gajah ini punah 10.000 tahun yang lalu.4

Mengapa semua kerabat lain dari ordo Proboscidea ini bisa punah? Beberapa bukti menunjukkan bahwa mammoth dan mastodon di Amerika Utara telah diburu oleh manusia pertama yang mencapai benua tersebut hingga punah. Beberapa pendapat lainnya yang dikemukakan oleh ilmuwan menunjukkan pemanasan iklim memiliki peran penting dalam kepunahan mereka.5

Dominasi manusia untuk terus mengakumulasi kebutuhan yang belum tentu mereka butuhkan telah menyebabkan berbagai kerusakan yang ada di seluruh permukaan bumi hari ini. Gajah merupakan salah satu saksi atas dominasi manusia terhadap alam. Mereka hidup ribuan tahun sebagai sumber makanan, pakaian, pekerja, tentara, bahkan dianggap sebagai dewa suci oleh beberapa kepercayaan.

Secara garis besar, anatomi dari buku Hikayat Gajah ini terbagi dalam dua ruang besar. Ruang pertama adalah relasi gajah sebagai jembatan bagi manusia menuju tuhan yang bersifat transendental dan ruang kedua relasi gajah sebagai komodifikasi bagi manusia dalam urusan ekonomi politik yang bersifat material.

BACA JUGA: Menelusuri Patologi Musnahnya Ruang Hidup di Asia Tenggara

Ruang Transendental

Pada bab 1 dan 5 kita akan menyelami ruang transendental. Bab 1, menceritakan gajah dalam dimensi kitab suci dan kepercayaan-kepercayaan dunia. Sekilas dalam bab ini penulis sangat berusaha keras untuk menunjukkan bagaimana gajah menjadi komponen penting dalam ruang-ruang transendental bagi beberapa agama dan kepercayaan.

Sayangnya analisis yang kurang komprehensif membuat fakta yang disajikan pada bab ini kurang dielaborasi secara mendalam dan tajam bagaimana kaitannya gajah bisa menjadi hewan penting yang disebut dalam beberapa kitab suci. Terkesan hanya menampilkan fakta umum yang bisa kita dapatkan melalui wikipedia.

Pertanyaan penting misalnya seperti bagaimana korelasi gajah sebagai hewan suci terhadap perburuan gajah dan perdagangan gading ilegal di Asia dan Afrika? Apakah benar kepercayaan itu selaras dengan komitmen masyarakat untuk melindungi gajah karena dianggap sakral dan suci. Jika tidak, kenapa bisa terjadi kontradiksi?

Pertanyaan-pertanyaan penting seperti di atas berguna untuk menguji tesis kita bahwa gajah memang memiliki posisi penting dalam beberapa agama dan kepercayaan—sakral.

Kemudian bab 5, penulis berusaha memasukkan unsur magis ke dalam bukunya, yaitu tafsir mimpi melihat gajah. Kita akan disuguhkan berupa tafsir-tafsir mimpi menarik yang penting dan patut kita cermati lebih jauh. Dalam kondisi pandemi yang carut-marut dalam 2 tahun ke belakang, bab ini layak menjadi bagian paling penting dalam buku Hikayat Gajah.6

Kita disuguhkan tafsir-tafsir mimpi yang sangat menarik untuk memandu kita dalam memilih nomor togel 4D 3D 2D—D maksudnya adalah posisi tentang kepala ekor, A = As, B = Kop, C = Kepala dan D = Ekor. Memang dalam bab ini, yang berada di ruang transendental akan sangat banyak orang yang meremehkan dan tidak percaya.7

Tapi bagi orang yang selalu optimis, setiap fenomena alam yang muncul adalah suatu pertanda dan layak untuk dipertaruhkan. Menyitir Sutan Sjahrir, hidup yang tidak dipertaruhkan, adalah hidup yang tidak akan pernah dimenangkan.

Alih-alih mengelaborasi gajah dalam dimensi transendental dengan cukup mendalam. Bab ini ternyata hanya menyuguhkan tafsir-tafsir mimpi yang berkaitan dengan gajah secara dangkal, di mana tafsir-tafsir ini bisa kita dapatkan secara mudah di situs-situs prediksi mimpi togel dan primbon.

Sebagai usulan, penulis bisa menambahkan secara serius bagaimana ide tentang gajah yang berada di ruang transendental—alam pikiran manusia yang abstrak—hingga bisa termanifestasikan secara gamblang di dalam ruang material—sebagai aspek kehidupan sosial—suatu masyarakat atau komunitas lokal.

Seperti masyarakat Thailand yang telah lama tinggal di Semenanjung Indo-China, mereka memiliki sejarah dan warisan budaya yang panjang. Dengan pengaruh latar belakang lingkungan geografis yang spesifik serta warisan sejarah dan budaya, masyarakat Thailand telah membangkitkan emosi yang unik terhadap gajah. Mereka mencintai gajah, memuja gajah, dan juga takut kepada gajah.8

Setelah perkembangan sejarah yang panjang, masyarakat Thailand secara bertahap mengembangkan budaya secara khusus yang mereka sebut sebagai “budaya gajah”. Hal ini tercermin dalam idiom—sebuah konstruksi makna yang mengalami perubahan dari gabungan makna unsurnya, misalnya kambing hitam—Thailand, dan ada banyak metafora yang dibangun dengan “gajah” atau perilaku yang terkait dengan “gajah” sebagai domain sumber aspek kehidupan sosial mereka.9

BACA JUGA: Mencari Murray Bookchin Dalam Belantara Ilmu Sosial

Ruang Material

Berikutnya pada bab 2, 3, dan 4 kita akan memasuki ruang material. Bab 2, keterlibatan gajah dalam era kekuasaan kekuasaan Romawi, Persia, India, dan Cina. Bab 3, gajah dalam pusaran sosial, ekonomi, dan politik. Bab 4, gajah dalam pusaran kebudayaan.

Pada bab 2, keterlibatan gajah di era kekuasaan kekuasaan Romawi, Persia, India, dan Cina. Fakta-fakta menarik disampaikan oleh penulis tentang bagaimana satu persatu dari era kekuasaan tersebut menempatkan gajah dalam kekuasaan mereka.

Seperti di Romawi dan Persia gajah bertransformasi sebagai hewan petarung dan pasukan perang. Tubuhnya yang besar dan derum suaranya yang begitu menggelegar dan menggema menjadi salah satu kekuatan yang bisa membuat para musuhnya ketakutan.

Sedangkan di India yang terkenal dengan relasinya yang kuat antara kerajaan-kerajaan di dataran India dengan gajah, membuat beberapa kerajaan di wilayah Asia Tenggara mencoba melakukan hal yang sama dengan mengaitkan gajah sebagai simbol kedaulatan. Kemudian beralih ke Cina bagaimana gajah bertransformasi sebagai hewan penghibur dalam beberapa acara pertunjukan.

Informasi yang disajikan oleh penulis ini sebenarnya sudah sangat menarik, karena melihat spektrum gajah dari sisi keterlibatannya dalam kekuasaan di era kekaisaran dan kerajaan. Namun, mungkin perlu diperdalam lagi terkait proses domestifikasi—adaptasi gajah terhadap lingkungan baru, karena rata-rata gajah tersebut adalah hasil tangkapan dari wilayah lain yang cukup jauh seperti Cina yang mengumpulkan dan menangkap gajahnya di Burma.

Kemudian proses pelatihan, bagaimana proses panjang dari gajah liar hingga bisa bertempur di medan perang. Pelatihan seperti menahan derum keras dari gajah dan bagaimana gajah bisa melewati rintangan dengan mudah untuk menyergap musuh-musuhnya.

Lalu terakhir yang luput dalam pembahasan di buku ini adalah Mahout.10 Mahout adalah sebutan bagi pengendara gajah. Ia biasanya berasal dari India atau Afrika Utara, memiliki perhatian khusus ke gajah untuk memberikan makanan dan sebagai pengendali gajah ketika pertempuran. Namun ia juga berperan untuk membunuh gajah jika sudah sulit dikontrol atau terlepas dari barisan.

Berikutnya pada bab 3, gajah dalam pusaran sosial, ekonomi, dan politik. Tidak terlihat sama sekali ke mana arah topik pada bab ini akan mengerucut, di sana hanya terdapat sitiran-sitiran umum yang berisi kalimat-kalimat yang memuat kata gajah di dalamnya. Hanya sebatas itu. Tidak terlihat bagaimana pikiran penulis tentang apa yang ingin disampaikan pada bab ini.

Keberpihakan sudut pandangnya pun justru malah menyudutkan gajah itu sendiri, poin terkait keberpihakannya ini tergambar jelas pada nomor 6 dalam sub bab tafsir gajah dalam pusaran sosial, ekonomi, dan politik. Penulis menempatkan gajah sebagai komodifikasi perdagangan hewan secara ilegal.

Padahal dalam Konvensi Perdagangan Internasional Spesies Flora dan Fauna Liar yang Terancam Punah (CITES), adalah hukum internasional terkemuka yang mengatur gajah dan gading. CITES menawarkan tiga tingkat regulasi dengan Appendix I sebagai yang paling ketat dan Appendix III sebagai yang paling longgar.

Awalnya, Gajah Afrika terdaftar di Apendiks III sampai dipindahkan ke Apendiks II pada 1977. Selama periode ini mulai 1977, mereka diatur oleh sistem kuota berburu. Pada 1990, Kenya bersama dengan Amerika Serikat berhasil melobi agar gajah Afrika terdaftar di Appendix I, melarang semua perdagangan gading ilegal.11

Terakhir bab 4, penulis berusaha memasukkan dimensi budaya ke dalam buku ini. Dimulai dengan kitab-kitab kuno, arca, relief, tarian, nama-nama desa, senjata kuno, pernikahan, media pengobatan, ilmu kesaktian, folklore, peribahasa, kisah mahabarata, kisah ramayana, dan ditutup dengan epik tentang topik psikologi. Sungguh luas sekali pembahasan dimensi budaya pada bab ini, segala lini dalam kehidupan masyarakat berusaha dimasukkan oleh penulis secara singkat, padat, dan jelas namun tidak mendalam.

Penambahan perspektif kritis diperlukan dalam membaca kembali bab ini. Salah satu perspektif penting adalah bagaimana melihat konflik antara gajah dan manusia sejak era kolonial di mana transmigrasi besar-besaran mengarah ke Sumatera.

Penggusuran habitat gajah secara nyata terlihat karena adanya perubahan dari habitat gajah menjadi perkebunan monokultur (sawit dan karet) yang telah menghancurkan habitat Gajah Sumatera. Hal ini mengakibatkan gajah terperangkap dalam blok-blok kecil hutan yang tidak cukup untuk mendukung kehidupannya dalam jangka panjang. Hal tersebut menjadi pemicu terjadinya konflik antara manusia dengan gajah.12

Sebuah kontradiksi tergambar dari peristiwa ini, di mana gajah mempunyai nilai-nilai luhur dalam masyarakat Sumatera. Nilai-nilai luhur tersebut seakan tidak mempunyai kekuatannya setelah pembukaan lahan secara masif dan besar-besaran untuk transmigrasi serta memenuhi kebutuhan industri sawit dan karet.

Kritik yang proporsional wajib dilayangkan untuk mengembangkan buku ini dalam edisi berikutnya, karena buku terbitan pertama ini hanyalah sebuah ensiklopedia untuk pengetahuan umum. Tapi, buku ini bisa menjadi jalan pembuka bagi diskursus yang lebih dalam terkait gajah dan relasinya terhadap manusia. Dengan catatan jika digarap lebih serius lagi serta diperkuat dengan perspektif kritis.

Perlu ada kajian lebih mendalam lagi terkait gajah sebagai hewan itu sendiri dan relasinya terhadap manusia yang kompleks meliputi ekonomi politik. Sehingga tidak ada kesan sekedar menyitir informasi-informasi umum tanpa analisis mendalam dan terlihat menjadi seperti ensiklopedia—padahal jika buku ini jika disebut sebagai ensiklopedia ia harus disusun ulang sesuai urutan abjad.

Daftar Rujukan:

1 Paleo Sleuths. “About the Animals: Elephants”. Diakses 20 April 2022. http://paleosleuths.org/elephants.html#:~:text=Traveling%20Trunks&text=56%20million%20years%20ago%2C%20elephant,America%203%20million%20years%20ago.

2 Deraniyagala, Paul E. Pieris. Encyclopedia Britannica. “Proboscidean (Mammal)”. Diakses 20 April 2022. https://www.britannica.com/animal/proboscidean

3 Polly, Paul David. “Gomphothere (Mammal)”. Diakses 20 April 2022. https://www.britannica.com/animal/gomphothere

4 Paleo Sleuths. “About the Animals: Elephants”. Diakses 20 April 2022. http://paleosleuths.org/elephants.html#:~:text=Traveling%20Trunks&text=56%20million%20years%20ago%2C%20elephant,America%203%20million%20years%20ago.

5 Ibid,.

6 Rumus Soal. “Kode Alam Mimpi Gajah”. Diakses 20 April 2022. https://rumussoal.com/kode-alam-mimpi-gajah/

7 Made in Togel. “4D 3D 2D”. Diakses 20 April 2022. http://madeintogel.blogspot.com/2011/10/4d-3d-2d.html

8 Han, Jianghua. The Study of Thai Elephant Culture Based on the “Elephant Metaphors” in Thai Idioms. Comparative Literature: East & West, 3, No. 2 (2019). 149.

9 Han,. 149.

10 Cartwright, Mark. World History. “Elephants in Greek & Roman Warfare”. Diakses 20 April 2022. https://www.worldhistory.org/article/876/elephants-in-greek–roman-warfare/

11 Linder, Ann. Animal Law. “Overview of Elephants and the Ivory Trade”. Diakses 20 April 2022. https://www.animallaw.info/article/overview-elephants-and-ivory-trade

12 Nuryasin, Defri Yoza, dan Kausar. “Dynamics and Conflicts Resolution of Sumatera Elephants (Elephas maximus sumatranus) Towards Human in Mandau, Bengkalis Regency”. Jom Faperta 1, No. 2 (2014). 2.

Standard

25 thoughts on “Jurnal Api: Memeriksa Kembali Hikayat Gajah

  1. MusdalifahMansur says:

    Gajah adalah salah satu binatang yang belum pernah aku lihat secara langsung, hanya bisa melihatnya di tv. Perihal gajah, langsung ke ingat negara Thailand dan ada scene Lee Min Ho yang lagi naik gajah di fil city hunter, dan memang gajah ini menjadi salah satu hewan suci bagi kelompok tertentu dan berperan penting dalam sosial ekonomi politik di beberapa negara. Jadi, agak sedih juga kalau hewan ini harus digusur.

    Like

  2. gajah memang sering ya dipakai sebagai metafora, karena punya makna sendiri buat orang-orang. tapi gajah itu unik ya, kayaknya di mata anak kecil, gajah itu paling ikonik untuk diingat.

    Like

  3. Karena dari kecil sering nonton film India, jadi udah tau kalau di sana Gajah itu adalah binatang suci yang dipuja. Tapi baru tau kalau di Thailand juga diperlakukan demikian.

    Like

  4. Fenni Bungsu says:

    Kalau mengingat kisah tentara bergajah lalu melihat gajah jaman sekarang, berasa banget ya kepunahan gajah.
    Jadinya pelestarian gajah ini perlu dilakukan

    Like

  5. Windi Astuti says:

    sedih juga tahu kabar spesies gajah semakin sedikit, padahal kalau lihat atraksi gajah bgtu pintar mereka. bisa beraksi esuai instruksi. semoga gajah tidak semakin punah ya

    Like

  6. dulu aku mengira kalau gajah dan mammoth sama aja. Ternyata beda
    dan nggak nyangka ternyata gajah juga mempunyai peranan yang penting dengan kehidupan manusia, ga cuman di indo aja
    Di India justru dijadikan sebagai simbol. Di romawi juga. Ini identik dengan badannya yang gede itu. Udah kayak “diagungkan” gitu ya

    Like

  7. Gajah, salah satu binatang yang cerdas ternyata mengalami evolusi yang panjang juga. Belum lagi kini hanya tinggal 3 spesies karena kerusakan ulah manusia menyebabkan lainnya punah.

    Perburuan oleh manusia untuk memenuhi kebuuhan yang bukan pokok menjadikan gajah-gajah jadi korban.

    Semoga gajah yang ada di negara kita bisa hidup aman dan bebas di alamnya.

    Like

  8. hallowulandari says:

    pas baca judulnya aku kira akan menceritakan hikayat semacam legenda gitu mas, ternyata lebih banyak ke ilmu pengetahuan umum dan sejarahnya ya tentang gajah ini. Ngeri-ngeri sedap ya potensi kepunahan gajah ini baik dari perburuan atau pun perubahan iklim, artinya isu perubahan iklim tuh ga main-main sudah ada pertandanya dari dulu, jangan sampe deh makhluk hidup secara cepat punah karena climate change

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s