Letter to Aksara

Jurnal Api: Sepeda Tanpa Pedal

Kesalahan-kesalahan mendasar yang saya lakukan di masa-masa awal pernikahan adalah soal pengelolaan uang. Dalam 2 tahun pertama di awal pernikahan, saya yang mendapatkan upah pas sesuai UMR—kadang-kadang juga dipotong kalau telat masuk kerja—harus menyelesaikan tunggakan pinjaman hutang yang saya ambil di salah satu bank milik negara.

Hutang yang saya ambil ketika masih berusia 22 tahun untuk bisa bertahan hidup dengan membuka usaha kecil-kecilan, ketika itu saya berjualan kain tenun tradisional khas Lombok. Namun, karena perencanaan yang kurang matang dan ego masa muda yang masih begitu tinggi sekaligus bergejolak, uang tersebut akhirnya hanya tersisa dalam bentuk motor kopling tanpa uang tunai.

Karena kesalahan-kesalahan yang sudah saya mulai sebelum menikah, Iza yang tidak tahu apa-apa soal uang itu akhirnya harus ikut menanggung beban bersama. Beban yang rasanya tidak adil saya bagi dengan dia, namun harus saya bagi karena memang tidak jalan lain.

Setidaknya saya harus mengeluarkan uang 1,1 juta tiap bulannya untuk membayar hutang dan melunasi cicilan motor. Dengan upah UMR, hutang itu sudah merenggut 30% dari upah yang saya terima ketika awal mendapatkan upah UMR—upah awal yang saya terima ketika itu 3,8 juta.

Tidak ada uang yang tersisa untuk ditabung dari upah yang saya terima, bahkan uang dari orang-orang yang datang ke resepsi pernikahan kita sebesar 9 juta ludes tidak bersisa. Masa-masa ini berlangsung kurang lebih 2 tahun awal pernikahan saya dengan Iza.

BACA JUGA: Panjang Umur Semua Hal Baik

Mulai Berbenah

Setelah cukup banyak belajar dari kesalahan-kesalahan mendasar yang saya lakukan di awal pernikahan. Ketika semua hutang dan cicilan sudah terselesaikan semua, saya kemudian memilih untuk lebih berhati-hati dalam mengelola uang yang saya dapat dari upah.

Upah yang naik dari 3,8 juta ke 4,3 juta membuat saya lebih berhati-hati dalam membuat perhitungan apa-apa yang penting untuk didahulukan, dan apa-apa yang bisa menunggu untuk dibeli menunggu uang terkumpul terlebih dahulu.

Tiap bulannya saya memaksakan diri untuk menyisihkan uang sebesar 800 ribu untuk disimpan sebagai dana cadangan atau dana darurat jika suatu hari nanti ada peristiwa luar biasa di luar kebiasaan saya dan Iza sehari-hari.

Mulanya proses ini cukup berat, saya yang tidak cukup baik dalam mengelola uang memang sering mengambil uang simpanan tersebut untuk kebutuhan-kebutuhan yang sebenarnya bisa direm karena tidak terlalu penting.

Tapi, karena kesadaran bahwa saya adalah kelas proletar yang harus bisa menyiasati keadaan dengan baik, mau tidak mau saya akhirnya terbiasa untuk memilih dan memilah mana-mana yang penting dan tidak. Salah satunya melanjutkan kebiasaan saya semasa kuliah, berhenti membeli baju baru. Mungkin sesekali tetap membeli untuk mengganti baju yang sudah rusak termakan usia.

Ketika esai ini ditulis, setidaknya saya sudah berhasil menghimpun uang di dalam tabungan sebesar 1 kali upah dalam sebulan. Rencananya nilai yang saya dan Iza sepakati untuk disimpan di tabungan awal ini adalah 5,5 juta untuk keperluan-keperluan darurat seperti Aksara sakit—meskipun ada BPJS—atau peristiwa-peristiwa luar biasa lainnya.

Setelah mencapai angka tersebut, uang yang kami simpan akan dialihkan dalam bentuk lain dalam bentuk investasi jangka panjang sekitar 5 tahun ke depan untuk kebutuhan pendidikan Aksara. Setidaknya terkumpul uang 48 juta sebelum Aksara memasuki jenjang pendidikan sekolah dasar. Mungkin ini rencana yang cukup ambisius dan terkesan memaksakan, tapi setidaknya sebelum tahu bahwa ini akan gagal saya dan Iza akan terus mencoba menyiapkan yang terbaik untuk Aksara.

Sepeda Tanpa Pedal

Membeli sepeda tanpa pedal adalah salah satu cara saya dan Iza untuk merealisasikan perencanaan keuangan dengan baik versi kami. Sepeda tanpa pedal merupakan salah satu solusi untuk hemat untuk Aksara tetap bisa belajar sepeda.

Sepeda tanpa pedal bisa bertahan menemani Aksara sampai usianya masuk ke jenjang sekolah pendidikan dasar, jika terjadi kerusakan atau peristiwa luar biasa lainnya. Kami mungkin hanya perlu membeli sepeda tanpa pedal 1 kali lagi selama rentang waktu 5 tahun, dengan total 2 sepeda tanpa pedal. Baru ketika sudah memasuki jenjang pendidikan sekolah dasar, kami akan membeli sepeda baru dengan pedal.

Perihal menabung, prinsip-prinsip yang saya sepakati dan Iza mengantarkan kepada keputusan bahwa uang milik Aksara adalah tetap milik Aksara. Tidak boleh diambil atau bahkan digunakan oleh saya dan Iza selama kami bisa memenuhi kebutuhan kami sendiri dari upah saya dan usaha les sempoa milik Iza.

Uang milik Aksara baru bisa digunakan ketika memang kami tidak punya uang lagi atau ada peristiwa-peristiwa luar biasa yang mengharuskan kami menggunakan uang tersebut. Memang formula ini tidak cocok bagi sebagian keluarga yang lain, karena tentu setiap keluarga memiliki formulanya masing-masing menyesuaikan realitas yang mereka hadapi.

Sehingga pada saat esai ini ditulis, Aksara setidaknya sudah memiliki tabungan sebesar 2 juta dari uang saku lebaran yang kami simpan dan uang saku yang kadang diberikan oleh kakek dan nenek Iza. Dan sepeda tanpa pedal yang dibeli seharga 400 ribu dari uang saku lebaran milik Aksara.

Saya dan Iza cukup ambisius untuk menyimpan uang-uang saku milik Aksara untuknya sendiri di masa-masa yang akan datang. Berharap uang tersebut mampu membantu kebutuhan-kebutuhan yang akan dibutuhkan Aksara di masa itu, dan sembari berharap dengan apa yang kami lakukan sekarang akan berdampak kepada Aksara ketika sudah dewasa agar bisa lebih baik mengelola uang dibandingkan saya dan Iza saat ini.

Seperti filosofi sepeda tanpa pedal, saya, Iza, dan Aksara akan selalu berusaha untuk terus berpindah dari suatu tempat ke tempat lain yang lebih baik dengan berjalan atau berlari. Jika capek kami bisa duduk dan beristirahat dulu di sadel tanpa perlu turun dari sepeda.

Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s