Traveling

Jurnal Api: Liburan Sejenak

Tiga hari yang lalu, tepatnya 14 Mei, kami bertujuh bersepakat untuk menghabiskan waktu libur akhir pekan bersama-sama. Kami adalah saya, Iza, Aksara, Desi, Dicky, Indi, dan Maria. Rencana ini sudah kami susun jauh-jauh hari dengan baik.

DAY 1

Sore pukul 17.00, 14 Mei, saya, Iza, dan Aksara berangkat menuju rumah Desi dan Dicky untuk menjemput mereka. Kami berlima berangkat menggunakan mobil milik kakek Aksara. Sedangkan Indi dan Maria, sudah berangkat lebih dulu karena mereka punya agenda tambahan menonton Jazz Traffic Festival yang tahun ini dilangsungkan di luar Surabaya yaitu di Lawang, Malang.

Perjalanan yang kami tempuh cukup padat di beberapa titik, mungkin karena waktu tersebut bertepatan dengan libur long weekend sampai Senin, 16 Mei. Para kelas pekerja benar-benar tahu bagaimana cara mereka memanfaatkan libur yang cukup panjang ini, untuk melepas penat dari tuntutan-tuntutan pekerjaan mereka.

Kurangnya ruang-ruang publik di tengah kota yang bisa diakses secara gratis oleh para kelas pekerja,  juga menjadi salah satu dorongan yang menyebabkan mereka memilih menghabiskan waktu di luar kota dengan harapan mendapatkan kualitas udara yang lebih baik untuk melepaskan penat.

Kembali ke dalam perjalanan, sebelum kami lepas landas meninggalkan Sidoarjo. Pukul 17.15 kami menyempatkan mampir ke salah satu SPBU yang berlokasi tidak jauh dari Stadion Jenggolo. Kami mengisi bahan bakar jenis pertalite sebesar 150 ribu.

Sebenarnya, sebelum kenaikan harga-harga bahan bakar naik secara bersamaan ini. Kami selalu mengisi bahan bakar mobil dengan jenis pertamax. Namun, karena naik cukup tinggi, hampir 2 kali lipat, kami akhirnya bersiasat untuk memilih jenis lain seperti pertalite.

Tidak tersedianya transportasi publik yang terintegrasi dengan baik antar kota yang murah dan nyaman, memaksa kami untuk menyiasati kondisi-kondisi tersebut dengan menggunakan mobil pribadi dan memilih bahan bakar yang bisa kami jangkau. Jangan heran jika banyak mobil rela untuk mengantre ke jenis bahan bakar pertalite, jika pemerintah saja tidak bisa menyiapkan transportasi publik yang baik. Rakyat, memang harus lebih pintar mengatur siasat.

Setelah bahan bakar terisi, saya kemudian menancap gas untuk segera pergi meninggalkan Sidoarjo. Selama perjalanan, tidak ada titik kemacetan yang terlalu lama dan panjang. Semuanya dalam kondisi padat merayap.

Sesampainya di bundaran Apollo, kami memutuskan untuk menepi dan salat magrib di Masjid Al-Maghfirah pukul 18.30. Kami bergantian keluar dari mobil, Iza menjadi orang terakhir yang keluar dari mobil karena harus menggendong Aksara yang tengah tertidur pulas. 

Setelah semua kembali ke mobil, saya kemudian perlahan memacu mobil kembali memasuki Jalan Raya Surabaya-Malang. Traffic light demi traffic light kami lewati tanpa ada hambatan apapun, hingga kami sampai di Lawang, Malang. Kami menyusuri sisi kiri jalan, kemudian berbelok ke kiri tepat beberapa meter sebelum jalan layang yang menghubungkan ke Pasar Lawang.

Perut yang sudah cukup lapar dan bercampur dengan angin memaksa kami untuk mencari warung makan di pinggiran jalan arah ke penginapan. Tak berselang lama dari belokan tadi, kami kemudian berhenti dan memarkirkan mobil di sebuah lahan kosong depan perumahan. Kami turun dan mulai membaca plang-plang warung makan yang berjejer saling berhadap-hadapan di sisi kiri kanan jalan.

Kami bersepakat untuk mencari warung makan yang menyediakan menu utama nasi. Karena untuk mengisi perut agar yang sudah keroncongan, juga agar lebih awet bertahan di dalam perut hingga pagi tiba. Akhirnya pada pukul 20.10 kami berbelok ke warung makan nasi penyet ayam dan bebek. Namun, karena mereka kehabisan nasi dan harus memasak lagi. Kami kemudian bergeser ke samping kanan warung menuju Warung Sate Cak Sumbari.

Saya, Iza, dan Aksara memesan sate ayam 20 tusuk, sedangkan Desi dan Dicky memesan sate kambing 10 tusuk dan 1 porsi gulai kambing. Masakan yang cukup enak untuk warung yang berlokasi di daerah wisata. Karena tak jarang saya menemukan makanan yang kurang nyaman di lidah di tempat wisata. Di warung ini, kami menghabiskan lebih kurang 200 ribu untuk makanan dan minuman yang kami pesan.

Setelah semua kenyang, kami kemudian menyusuri jalan untuk menemukan toko swalayan. Mungkin sekitar 50 meter dari warung tadi, kami menemukan Indomaret. Di sana kami berbelanja makanan ringan dan beberapa botol air mineral sebagai bekal untuk kami menginap.

Dari Indomaret tersebut, saya kemudian menancapkan gas lagi untuk segera sampai di penginapan. Dengan jarak tempuh sekitar 10-15 menit, akhirnya kami sampai ke penginapan yang sudah kami pesan bernama BeSS Resort and Waterpark. Kami datang bertepatan dengan acara sebuah klub mobil avanza, mereka memutar musik sangat kencang dengan lampu disco yang menyala memecah keheningan.

Saya kemudian bergegas memarkirkan mobil, untuk segera bisa turun dan menuju lobby hotel. Kami mengemasi barang-barang di mobil dan membawanya ke dalam lobby. Sesampainya di sana pukul 20.42, kesan mewah dan bersih adalah kata-kata yang berseliweran di dalam kepala saya. Dengan harga 350 ribu, kami bisa menikmati fasilitas yang mewah dan bersih.

Setelah urusan check in selesai, kami kemudian naik menuju kamar hotel. Kami menaruh semua barang dan bergegas naik ke rooftop untuk menikmati suasana malam sembari melihat lampu-lampu kecil milik perkampungan warga di seberang sungai. Oh ya, hotel ini dipisahkan oleh sungai dengan perkampungan warga, hotel ini masih satu area dengan perumahan Grand Bromo Village. Sekitar pukul 20.52 kami berada di rooftop, setelah cukup puas berfoto dan menikmati malam, kami memutuskan untuk kembali ke kamar dan beristirahat pukul 22.45.

Sedangkan Indi dan Maria baru sampai di hotel pada tengah malam, karena baru selesai menonton konser dan sempat tersesat dalam mencari jalan menuju hotel.

DAY 2

Paginya pukul 07.00, kami berkesempatan mendapatkan fasilitas breakfast dari hotel yang masih satu paket dengan harga sewa kamar. Kami bertujuh masuk ke dalam lift dan turun menuju restoran. Di sana kami cukup kesulitan memilih tempat duduk karena tamu yang datang cukup ramai, tapi setelah memilih beberapa meja, kami kemudian mendapatkan meja yang memiliki view langsung ke waterpark. Terlihat, para tamu yang sudah selesai makan, beberapa dari mereka langsung menuju waterpark untuk berenang sekaligus menikmati sinar matahari.

Di meja ini, kami juga sempat berfoto-foto, salah satu fotonya saya jadikan header untuk esai ini. Kami dibantu oleh pelayan restoran yang baik, beliau memotret kami dalam beberapa pose, setelah itu beliau lanjut bekerja dan kami bergegas menuju waterpark pukul 07.45. Indi dan Maria memilih untuk kembali ke kamar karena tidak membawa pakaian ganti, dan mungkin juga mereka masih lelah karena konser semalam.

Fasilitas waterpark ini gratis dan masih dalam satu paket dengan sewa kamar. Jika tidak sedang menginap di hotel ini, atau masyarakat sekitar jika ingin berkunjung ke waterpark ini bisa membayar tiket seharga 25 ribu untuk orang dewasa dan 20 ribu untuk anak-anak. Sedangkan, di hari libur harga tiket naik menjadi 35 ribu.

Cukup lama, kami menghabiskan waktu di waterpark. Di saat matahari kian naik ke tengah, kami akhirnya memutuskan untuk kembali ke kamar pukul 09.00. Kami bersih-bersih badan dan pakaian lalu beristirahat. Sekitar pukul 11.45, kami mengemasi barang dan harus check out sebelum pukul 12.00.

Ada sedikit masalah ketika proses check out ini, padahal kami ingin menghabiskan waktu terlebih dahulu di rooftop dengan berfoto dan menikmati pemandangan. Pada proses check out ini kami dihadapkan dengan tagihan yang tidak kami pesan. Ada 2 orang iseng menggunakan nomor kamar saya, Iza, dan Aksara untuk memesan breakfast ekstra di restoran. Memang fasilitas breakfast gratis ini hanya tersedia 2 tiket tiap kamar, dan bagi anak-anak di bawah 4 tahun tetap gratis.

Pihak hotel bersikukuh bahwa yang memesan adalah dari rombongan kami, saya yang kemudian menemukan celah dari tuduhan ini meminta pihak hotel mengecek tanda tangan di struk tanpa nama tersebut dengan tanda tangan di kartu tanda pengenal kami. Setelah dicek dan tidak ditemukan kemiripan, saya menegur pihak hotel untuk memperbaiki sistem mereka agar orang asing atau mereka yang bukan tamu hotel tidak bisa seenaknya mencuri informasi tamu hotel untuk memanfaatkan fasilitas hotel. Mereka kemudian meminta maaf, dan semua masalah selesai.

Kami kemudian bergegas memasukkan barang-barang ke dalam bagasi mobil. Setelah semua masuk saya langsung menancapkan gas menuju Kedai Hutan Cempaka. Indi dan Maria mengendarai motor, sedangkan barang-barang mereka masuk ke dalam mobil.

Jarak yang cukup jauh hingga 1 jam perjalanan, membuat kami cukup santai menikmati perjalanan, beberapa titik kemacetan yang kami temui tidak terlalu parah hingga antrean panjang. Tapi yang namanya macet tentu saja menyebalkan. Mungkin terlintas di kepala, kenapa kami tidak menggunakan tol untuk berangkat atau pun pulang? Jawaban pertama yang valid adalah berhemat. Kedua adalah jalur yang kita tempuh jika menggunakan tol tentu harus memutar cukup jauh jika dibandingkan dengan jalur jalan raya.

Tepat 1 jam berlalu, kami kemudian memasuki perkampungan yang hanya bisa dilewati oleh satu mobil. Jika berpapasan, salah satu mobil harus mengalah dengan menepi di pinggir sawah atau halaman rumah warga. Perlahan kami naik menyusuri jalanan berbatu. Akhirnya kami sampai di Kedai Hutan Cempaka pukul 13.00, disambut dengan pintu masuk yang unik, dan saya memilih memarkir mobil di bawah, karena jika memarkir di atas, jalan yang ditempuh cukup licin dan curam, berbahaya bagi mobil-mobil kecil.

Di kedai ini, kami memesan makanan karena cukup lapar setelah perjalanan yang melelahkan. Saya, Iza, dan Aksara memesan mie nyemek, serta paket makanan nasi jagung, ikan asin, ayam panggang, sayur sop, sayur lodeh, urap-urap, plus sambal. Cemilannya ada sosis bakar dan donat. Minumannya 1 es teh dan 1 botol air mineral.

Desi, Dicky, Indi, dan Maria juga memesan menu yang hampir mirip dengan sedikit perbedaan di lauknya. Sedangkan cemilan, ada tambahan tempe mendoan, tahu goreng, dan kentang goreng. Minuman yang dipesan mereka pun tidak jauh dari menu warung pada umumnya, ada susu dan wedang. Sekitar 300 ribu, total uang yang kami keluarkan di sini.

Tempat yang cukup nyaman serta konsep bangunan yang mengikuti alam menjadi padu padan yang menarik. Konsep bangunan yang selaras dengan alam ini penting, di samping mengikuti kondisi geografis juga tetap menjaga kelestariannya, tidak terlalu memaksakan dengan konsep modern yang dimiliki perkotaan yang harus menggerus kondisi asli geografisnya.

Selain warung, ada outbond untuk anak-anak sehingga banyak pilihan yang menarik bagi mereka. Kemudian juga ada live music di sana, mereka membawakan daftar lagu yang dibawakan pada Jazz Traffic Festival sehari sebelumnya menurut Indi dan Maria. Jadi penonton di sana larut dan bernyanyi bersama.  Home band tersebut menamakan diri mereka @neo_coustik, berisi musisi-musisi yang cukup handal dan menghibur.

Sekitar 3 jam kami di Kedai Hutan Cempaka, pukul 16.45 kami kemudian memutuskan untuk pulang karena hujan lebat tiba-tiba mengguyur wilayah tersebut. Indi dan Maria kembali menitipkan barang mereka di mobil dan mengenakan jas hujan untuk menembus hujan lebat. Kami berlima juga bergegas masuk mobil menuju ke arah pulang.

Di perjalanan pulang kami sempat akan mampir di warung bakso murah di sekitar Pandaan. Namun, karena parkir yang penuh dan pengunjung yang harus mengantre, kami dengan terpaksa membatalkan niat tersebut. Saya lantas memacu mobil kembali menuju jalan raya.

Jalanan yang begitu lengang membuat Aksara tertidur pulas, Desi dan Dicky asik mengobrol dengan saya dan Iza. Sampai akhirnya kami di Indomaret dekat Stasiun Sidoarjo, kami bertemu kembali dengan Indi dan Maria, mereka berdua mengambil barang miliknya, dan langsung tancap gas menuju rumah.

Kami berlima yang sedari tadi masih lapar, akhirnya berhenti di warung Soto Daging Cabang Jombang yang berlokasi di depan Bank Delta Artha pukul 17.45. Saya, Iza, dan Aksara memesan 2 mangkuk soto daging dan 2 es teh plus 1 kerupuk. Desi dan Dicky pun sama minus 1 es teh, tapi menambah lauk yang disediakan di meja. Di sini kami menghabiskan sekitar 80 ribu untuk seluruh makanan yang dipesan.

Setelah semua kenyang, kami kemudian memacu mobil kembali ke arah rumah Desi dan Dicky, di sini Iza bergantian menyetir mobil. Saya tidur sambil memeluk Aksara. Tidak terasa pukul 18.30 kami sampai di rumah dengan selamat. Kami menurunkan semua barang, bersih-bersih badan, salat, dan kemudian tertidur pulas.

Terima kasih untuk Desi, Dicky, Indi, dan Maria atas kesediaan waktunya. Next time kita atur jadwal dan kita habiskan waktu bersama dengan bersenang-senang kembali!

Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s